Pernah kepikiran, kalau kita semua kebanyakan berdoa (baca: meminta).
Setiap manusia di setiap rumah dalam setiap kota dalam setiap negara di bumi ini.
Traffic doa dari bumi ke Tuhan pasti akan luar biasa padat ya. Kasihan para Traffic Executive yang kerja buat Tuhan. Pasti lembur melulu, sama kayak agency gue kalo lagi ngerjain lemburan Indosat yang selalu mendadak, ribet dan a.s.a.p, heheh.
Setiap detik ada ribuan doa. Setiap menit ada jutaan doa. Semuanya juga sama-sama aja mintanya: ”Bahagia-lah. Kaya-lah. Masuk surga-lah. Kesehatan-lah. Dapet jodoh-lah.” Ah standar. Mayoritas menuntut kebahagiaan untuk pribadi.
Bokek dikit, langsung berdoa minta rejeki
Baru putus pacaran, berdoa minta jodoh.
Lagi bete, berdoa diberi kebahagiaan.
Takut dosanya udah kebanyakan, berdoa biar dibolehin masuk surga.
Sakit? Berdoa supaya sehat. Tapi nggak mau berhenti merokok dan tetap makan sembarangan.
Standar. Standar. Standar.
Apa nggak bosen Tuhan dengerin doa kita?
Kadang gue berkesimpulan, kalau (seandainya) aja orang menganggap:
Dia adalah kebaikan yang kita harapkan terjadi pada yang ada di sekitar kita."
Ah. Tapi apalah yang gue tau.
No comments:
Post a Comment