20.5.05




hei lelaki
biar kuberitahu mimpiku
mimpi yang selalu kunanti di tiap lelapku
pejamkan matamu
sudah?
bayangkan tepian dimana darat dan laut terpagut
siang malam tak henti berciuman
laut menjilat desah darat berulang-ulang
darat membenamkan dirinya ke dalam laut, laut menarik dan mendorong lagi
kata mereka, candu ini nikmat sekali
senggama di beku waktu
tuhan jangan biarkan kami selesai

dan katamu, seandainya manusia bisa begitu

dan kataku, aku adalah laut
kamu daratanku
tanpa kamu, aku tak punya tujuan
dan tanpa aku, kamu kehilangan

katamu, itu mimpimu?
aku mengangguk
katamu, itu bukan mimpi. kita sekarang sedang begitu
kataku, hei. matamu itu masih terpejam. bangun. buka matamu

kamu membuka mata. melihat aku. aku. telanjang dan basah.
kataku, kamu sudah selesai. kita bukan laut dan darat, di hidup ini. kita selalu mengakhiri senggama kita. laut dan darat, cinta mereka abadi, takkan mereka berhenti bercinta.

karena kalau mereka mengakhiri, kiamat sudah.

katamu, bukan. mengakhiri bukan kiamat.
tanyaku, apa dong kalau begitu?
kamu tertawa dan bilang, bukan kiamat, perempuan. tapi surga. pejamkan matamu. aku mau mengakhiri kamu.


No comments:

Page copy protected against web site content infringement by Copyscape