28.5.06

tentang malam dimana bapak saya meninggal

Bapak saya sudah meninggal. Sekitar setahunan lalu.
Tepatnya, di malam saat Tiesto nge-rave di Ancol itu lho, awal April 2005.
Saya lagi cihui-cihuinya neken 3 permen senang sambil joget-joget kerasukan neriakin nama Tiesto berulang-ulang semalaman. Sama beberapa teman kuliah dan teman-teman absurd lainnya.
Pesta berakhir sekitar jam 4 pagi 'kali ya. Saya kokosehan nggak mau pulang, pengen ngelanjutin. Temen saya nurut - sebutlah namanya Ahmad (kali ini saya nggak bisa jujur dengan nama, karena postingan ini agak ilegal dan gosipnya polisi Jakarta jaman sekarang hobi blogwalking, hehehe). Dia ngajak saya nerusin ke Stadium, sama temen-temen lainnya, sama satu temennya yang saya agak naksir, sebutlah dia Erik. Dengan semangat 45 saya loncat-loncat sok girang ke parkiran yang jauhnya amit-amit, namanya juga hacep, nggak kerasa sama sekali capeknya. Sampe di mobil, pas mau keluar dari daerah Ancol, ibu saya menelpon. Saya mengangkat, "Halo?"

Ibu saya menangis menggerung-gerung di ujung sana. "Tobing meninggal Ran..."
"Ha, siapa?"
"Mbek. Mbek udah nggak ada Ran..." (Mbek adalah panggilan kami ke bapak, kami emoh memanggil dia dengan sebutan 'Bapak'.)
"Hah?"
Ibu saya semakin heboh menangis.
"... Meninggal?" ucap saya lamat-lamat. Saya sangat yakin saya berkhayal saat itu.
Ahmad sekilas kaget, ia lagi menyetir. "Anjing. Siapa meninggal, Ran?"
Saya terpaku.
Lama saya mendengar Ibu saya menangis. Lalu henfon saya matikan.
Ahmad nanya lagi. Ini hal yang paling males kamu temukan kalo lagi giting: berita duka. "Parah. Siapa Ran?"
"Bokap gue."
Dalam seketika semua di dalam mobil disambar geledek hening. Salah tingkah. Mau nangis, tapi kok nyengir mulu digelitikin amphetamine. Mau nyengir-nyengir, gilak aja, ada bapak orang baru mati, gitu?? Ahmad sangat ingin bertanya pada saya, "Lo mo balik?" -- tapi saya tau dia nggak berani nanya. Dia tau saya gimana, sekilas dia tau cerita saya dan bapak saya. Dia adalah satu diantara banyak teman, yang cukup dekat dengan kehidupan pribadi saya namun tak pernah ingin ikut campur atau menggurui atau sok-sok prihatin menasehati. Cukup mendengar. Cukup tau. Cukup ada bila saya butuh bantuan.
Ahmad terus menyetir sampai kami akhirnya tiba di Stadium. Semua orang di mobil pasti mengalami pengalaman hacep paling nyiksa ya, malam itu. Diem saja, takut salah ngomong, padahal fraktal dalam kepala meledak-ledak mau merayakan kegilaan yang menari menghentak-hentak ceria.
Turun dari mobil, Ahmad menggandeng saya dan nanya, "Mau masuk?"
Saya menatapnya dengan pandangan kosong. Entahlah apa yang saya pikirkan, saya cuma ingat satu perasaan saat itu, saya merasa seperti zombie. Mayat hidup. Bergerak namun nggak merasa. Pusing tapi berasa nggak punya kepala. Saya masuk ke Stadium tanpa berkata apa-apa. Kami berkeliaran nggak jelas, teman-teman lainnya udah mencar, saya ngintilin Ahmad dan Erik. Kemanapun mereka pergi, saya di belakang mereka, atau beberapa punggung di belakang mereka. Setiap saya kehilangan, saya memaksa otak saya untuk sedikit berdenyut, sedikiiiiit saja, sekedar untuk mengaktifkan sensor pandangan mata saya mencari-cari siluet Ahmad atau Erik di kegelapan manusia-manusia tak berakal di ruangan beroksigen ekstase ini.
Ternyata Erik tak pernah melepaskan jangkauannya dari saya. Ahmad memang langganan Stadium, jadi tiap dia kesini, pastilah dia menclok sana menclok sini sok akrab sok ramah. Erik lebih pendiam, biasanya dia cuma akan asik sendiri tanpa berkata-kata dan cengengesan seperlunya kalau ada orang menyapa. Dan malam itu Erik bagai menghantui saya.
Setiap saya kaget karena kehilangan dua cowok itu, saya gelagapan noleh kanan noleh kiri, dan akhirnya mendapati Erik berada tak jauh dari saya, dia biasanya mengerling atau tersenyum kecil seakan bilang "I'm here, okay?". Saya merasa agak berat. Nyaman. Tidak melayang-layang terbang tanpa arah, setiap saya melihat dia yang juga sedang memperhatikan saya.
Akhirnya saya memberanikan diri untuk merasa aman. Saya pun berkeliaran nggak keruan, cuma berjalan tanpa ingin berhenti. Padahal nabrak-nabrak orang ramai yang menari tanpa nada, padahal di depan ada segerombolah lonte sedang seru-serunya orgy party sama om om bermata sipit, saya emoh dan melenggang melewati dan menginjak beberapa diantara mereka. Saya nggak mau mengistirahatkan kaki ini, akhirnya tanpa saya sadari saya keluar dari ruangan itu, ke koridor. Orang-orang bersila dan merokok. Lampu gang menyala. Cewek-cewek abg geletakan keder -- karena kepalanya dihajar substansi-substansi yang hanya Tuhan yang tau, dan selangkangannya dihajar lelaki-lelaki yang hanya Tuhan yang tau.
Saya letih dan ikutan duduk bersila. Erik tiba-tiba muncul dan juga duduk di samping saya. Saya melihatnya, dia melihat saya. Saya mau cerita banyak, apa yang ada di dalam saya begitu nggak keruan, saya nggak kuat menahan semua emosi dan ilusi di dalam badan saya. Tapi apa, mau ngomong apa, mau cerita apa, mau bilang apa? Saya tau saya melihat wajahnya kelamaan. Dia akhirnya bilang, "Rokok dong Ran,"
Saya melemparkan Marlboro saya, dia mengambil satu, saya juga mengambil satu. Dia menyalakan rokok saya. Kami berdua merokok, duduk bersender di gang maksiat itu dan menikmati suara-suara bangsat-bangsat di sekitar kami mengadu kebahagiaan mereka dengan laknat. Ah kami pun salah satu di antara mereka. Bukankah kita semua sama di mata setan. Manusia lemah yang putus asa mengejar kesukacitaan.
Saya teringat teman SMA saya, Iie. Entah kenapa, saya menelponnya. Saat itu saya merasa mau bicara sama dia, merasa mungkin satu-satunya orang yang masih menganggap saya waras, ya dia, dan menelponlah saya. Iie mengangkat telpon saya, suaranya mengantuk. Saya bilang, bapak saya meninggal. Iie kaget dan bertanya, kapan. Saya bilang, malam ini. Iie bertanya, lo dimana, kok berisik banget. Saya bilang, di Stadium. Gue abis nonton Tiesto, trus ke sini. Iie bertanya, kok nggak pulang. Saya bilang, gue nggak tau. Dan saya menangis. Lamat-lamat kok, cuma sedikit terisak. Iie bertanya, Ran, lo pulang ya? Lo harus pulang. Saya hanya menangis. Iie bilang lagi, naek taksi Ran, pulang ya? Lo harus pulang sekarang. Kasian nyokap lo... Saya nggak menjawab. Rumah saat itu terasa jauh sekali. Saya nggak mau kembali menghabiskan waktu di perjalanan. Saya nggak kuat, nggak kuat menahan beban perasaan menuju ke suatu tempat yang saya sungguh nggak ingin berada di sana. Saya pengecut, seperti bapak saya, saya juga seorang pengecut. Iie terus meminta seakan menghipnotis, Ran pulang ya Ran? Please Ran, pulang ya Ran?. Saya sedih. Jadi sebal dengan dirinya. Jemput kek. Mikir kek, kalo gue bisa pulang sendiri dengan gampang, itu udah gue lakuin dari tadi! Saya menutup telpon tanpa bilang apa-apa.
Saya mengambil rokok lagi, Erik menyalakan rokok saya. Sebatang lagi kami nikmati.
Lalu Erik berkata, "Gue bukan anak yang baik,"
"Ha?"
"Gueeee.... bukan anak yang baik Ran." Erik tersenyum dan melihat tepat ke kedua mata saya. "Bokap nyokap gue kerja setengah mati banting tulang di Bogor, mereka bukan orang kaya, tapi bela-belain buat biayain gue kuliah, buat bayar kost gue. Lo liat aja sekarang, duit mereka gue habiskan buat apa."
Saya tak tau mesti bereaksi apa. Saya hanya tertawa kecil.
Erik kebingungan mencoba mencari cara agar saya mengerti maksudnya. Akhirnya dia menyerah dan ikutan ketawa.
Saat itu saya nggak tau maksudnya apa ngomong itu, saya malah bingung. Kenapa dia jadi curhat orang tuanya.
Tapi sekarang saya mengerti. Dia tau apa perasaan saya saat itu. Saya merasa kayak taik. Segumpal besar taik paling busuk -- karena cuma bisa mecandu ekstase palsu dan menolak menerima kenyataan, di saat dia seharusnya hadir di depan ibunya di malam terkutuk yang mereka semestinya hadapi. Mungkin bukan fakta bahwa bapak saya yang resmi almarhum yang membuat saya kehilangan arah, tapi fakta bahwa saya takut bangun di kehidupan nyata yang buat saya merutuk-rutuk dan menyiksa diri saya. Dia tau saat itu saya merasa menjadi anak termurtad yang hidup di dunia. Makanya Erik bilang itu. Bilang kalau dia juga bukan anak yang baik, bahwa saya nggak sendirian saat itu.
(Ya Tuhan, ternyata balada malaikatmu ada dimana-mana.)

Kami tak banyak bicara dinihari itu. Setengah bungkus rokok kemudian, Ahmad datang menghampiri. Duduk di samping Erik, mereka mengobrol. Saya nggak ikutan. Saya terus menatap ke kekosongan di depan, walau buntut mata saya menyadari bahwa Ahmad tak berhenti mengintip ke balik Erik, ke arah saya dan memperhatikan keadaan saya. Ah Ahmad, saya yakin kali ini saya nggak kege-eran, kamu sayang saya. Saya juga menyayangi kamu, selalu menyayangi kamu. Dan Erik, walau saya tak kenal siapa dia sebenarnya. Kalian berdua adalah harta-harta kecil di titik-titik hidup saya. Saya tak perduli siapa kalian, apa yang kalian lakukan di hidup kalian -- saya cuma taunya, tanpa kalian, hidup saya nggak akan sekaya sekarang.

Ahmad dan Erik tenggelam dalam percakapan sekian lama. Saya tidak bergabung. Sampai akhirnya cuma kami bertiga di lorong, ketiganya duduk berselonjor letih, bersandar ke dinding. Ahmad dan Erik mengajak saya untuk cari makanan di salah satu warung di depan. Kami keluar dari gedung sempit Stadium, ternyata dunia benderang bukan main. Jam 9 pagi. Mata saya mengernyit, kaget, belum sempat melepas ampas-ampas amphetamine yang perlahan-lahan larut di selokan darah di urat tubuh, belum sempat bilang "Hayo, Noran, sadar." -- matahari sudah galak membakar kulit saya. Dalam hitungan sepersekian detik, saya mana siap. Saya mana pernah siap. Siapa yang pernah siap, menghadapi kenyataan. Saya tersenyum getir dalam hati.

Kami pesan kopi hitam panas di salah sebuah warung. Ahmad pesan JessCool, kami berdua ikutan memesan, untuk meredakan kering tenggorokan. Erik makan indomi rebus, saya bilang, "Panas-panas gini, minum kopi panas, makan indomi rebus, hahaha..." Dia tersenyum dan menyeruput kuah indomi-nya, dan terkejut karena kuahnya beneran panas. Rautnya kocak sekali, saya terbahak. Tawa pertama saya yang nggak saya paksakan. Erik bilang, "Lidah gue kebakar nih, setan." Saya makin terbahak. Warung itu gerah, hari itu gerah. Hati saya kepenuhan perasaan yang tumpah ruah, saya tau hari itu akan sukar saya lupakan.

Ahmad ditelpon temannya yang masih di dalam Stadium, sepertinya ada masalah. Saya bertanya, "Ada apa?". Ahmad menggeleng-geleng sambil ngedumel pelan, "Tau nih. Anak SMA, bocah, rese' banget, nagih melulu." Dia buru-buru meneguk habis kopinya, sekilas mengerling ke arah Erik, dan buru-buru masuk ke dalam gedung. Erik cengengesan menenangkan saya, "Itu orang-orang yang beli dari Ahmad suka kampungan emang. Nyebelin, nagihnya rese'."

Saya mengangguk-angguk nggak ngerti. Saya memutuskan untuk pulang ke rumah sehabis makan pagi. Saya bilang setelah membayar makanan, "Gue mau balik aja,"

Erik tersenyum. "Ahmad siapa tau pengen nganter lo pulang,"
"Enggak-lah. Kayaknya dia masih sibuk. Gue bisa sendiri. Lo masih di sini?"
"Iya." Erik menggaruk-garuk kepalanya sambil nyengir. "Kayaknya sih, nggak tau juga."
Saya menyunggingkan senyum mengerti. Tentulah, kemana lagi mereka berdua. Saya bukan pemakai adiktif, agak malas juga kalau musti berlama-lama di dalam ruangan gelap berisi mahkluk-makhluk yang terlalu sibuk menjadi bahagia. Seandainya di hari-hari biasa pun, tanpa perlu ada kejadian bapak saya meninggal, saya selalu jadi orang paling pertama pulang. Enggak setiakawan emang, tapi ya gimana, kalo bosen ya bosen. Hehe.

Erik menemani saya menunggu taksi di jalan besar. Saya menikmati saat itu - that very right moment - berdiri di pinggir jalan asing di daerah asing. Memperhatikan kota yang denyut nafasnya semakin cepat dan segalanya semakin jelas. Memperhatikan kesibukan lalu lalang di depan dan sekitar kita. Memperhatikan Erik dengan gaya slengeannya berdiri dan memperhatikan taksi biru yang kosong. Kaki kami berdua menapak ke aspal, mantap. Saya mensyukuri bahwa saya tidak lagi melayang nggak keruan. Satu taksi menepi, Erik membukakan pintu, saya masuk. Memberikan senyum terakhir padanya, dia melambai kecil. Menunggu saya berlalu, dan ketika saya melihat ke belakang, dia masih menatap taksi saya menjauh sejenak, baru berbalik.

Perjalanan ke rumah saya memakan waktu sekitar satu setengah jam. Ahmad SMS saya, bilang, Ati-ati ye balik. Pdhl gw mo nganterin lu balik kl lu gak nyelonong. Kl dah nyampe rmh, kabarin ye. SMS nggak penting itu buat saya merasa sedikit kuat. Saya sampai juga, membuka pintu dengan kunci cadangan saya. Lampu rumah sisa semalam belum dimatikan. Saya menuju kamar ibu saya. Di sana ia berbaring, di atas sajadahnya, mengenakan mukena, namun tidak sholat atau mengaji. Dia terbaring, tidak sedikitpun bergerak. Dia nggak mendengar saya masuk, saya pikir dia tertidur. Kelopak matanya lebar terbuka. Saya menyentuh bahunya, menyadarkannya, dan menangislah kami berdua.

Seperti bendungan yang pintu airnya baru dibuka.
Seperti sebuah keluarga nista yang kehilangan pria yang sebenarnya amat mereka cintai, walau pria itu tidak pernah hadir memerankan lakon ketua dan pemimpin di tengah mereka.
Bapak saya meninggal bunuh diri, tapi itu cerita lain. :)


Kepada Ahmad dan Erik, terima kasih telah membuat saya merasa terselamatkan :)

No comments:

Page copy protected against web site content infringement by Copyscape