Aku lupa menyentuh hatiku tadi pagi.
Yang sempat terlintas dalam kepalaku hanyalah rindu
dan kecewa.
Kurajut hati-hati benang ingatan masa di belakangku, ternyata
aku lupa menyentuh jiwaku selama ini.
Yang kupikirkan hanya bagaimana caranya melindungi perasaanku,
melindungi. Melindungi.
Jangan sampai kain itu robek.
Jangan sampai. Jangan sampai dadaku sesak.
Jangan sampai mataku berat. Jangan sampai kepalaku meledak.
Jangan sampai. Jangan sampai dadaku sesak.
Jangan sampai mataku berat. Jangan sampai kepalaku meledak.
Kau selubungi kainku di tubuhmu,
Menutupi segala kekuranganmu. Menghangati sejumput akal sehatmu.
Dan kau bilang sebenarnya tak ada satupun yang berubah.
Hanya kadang, kita lupa apa yang harus kita rasakan.
Dan itu membuatmu kuat, katanya.
Dan itu akan selalu membuatmu sendirian.
Aku lupa menyentuh jiwamu, aku lupa caranya.
Aku lupa apa rasanya.
Aku tak ingat semuanya, bawa pergi sajalah kain dan benangbenang yang berceceran
di sofa kita, kau terlindung dalam semua yang akhirnya bisa kau rasakan.
Kau bilang, bergabung bersamaku?
(Aku mau sendirian.)
Kamu indah, namun aku tak mau kau buat bahagia,
Karena kamu hanyalah mimpi yang tertunda. Tidak,
karena kamu tak sekuat aku.
No comments:
Post a Comment