17.1.08

Dalam garis biru



dalam garis biru; derita bersuling pada semua insan di lembah.
matahari terbaring di pinggir jalan, jika jarak sudah sampai di batas. kaki berakar
yang memanjat langit. mereka berdiri hening,
dalam mimpi buruk yang bagaikan kaca. dan batu menari,
menyulap debunya menjadi nyanyi.
telinga setiap pecinta bernanah, karena malam milik malaikat.
lalu apa yang kau gusarkan wahai bunga kering?
senandungmu bergema dalam kamar pesakitan. bocah merintih,
berjajar di teras...

... lama berlalu.
pohon mati itu rubuh di ujung pengharapan. kuda berlari
menyisir
padang ungu.

bebas itu mukjizat.
diri ini telanjang.
senyum beku, juga biru. angin merasuk ke palung laut. udara busuk
saat makam terburai. luka yang kau kubur bernanah kembali. kaki itu berlumut,
masih bertahan di langit. matahari masih menunggu. kuda itu lewat satu persatu,
kini melayang di atas pohon mati.
tinggal bunga kuyu mengering dan hancur, kau masih menangis?
waktu tak pernah dimulai. walau lama sudah kau mengembara
dalam maya.
bocah itu berbaris,menangis, berteriak, mengelupas kulitnya.

langit terbang.

malaikat melayang di pusaran topan, terhempas tinggi.
mata menangkap sebentuk garis di bumi, dan jatuhlah ia ke dasar laut terdalam.
biru tertawa.
malaikat membusuk dalam dadamu. garis biru perlahan terburai.
dan bunga kuyu, pohon mati, matahari, bocah, kuda, langit, laut dan bumi...
perlahan bangkit menjelma. ... kembali menjadi cinta.


.written somewhere in year 2002
.yup, old memories strike back

No comments:

Page copy protected against web site content infringement by Copyscape