30.10.08

Kamar hening. Dada ribut.
Dia menghisap Marlboro di tempat tidur.
9 malam. Aku hendak beristirahat di pelukannya.

Katanya, Kenapa?
Kujawab, Nggak ada apa-apa.
Katanya lagi, Hei.
Rupanya mukaku semakin bodoh berbohong.
Kubilang, Mikirin ini itu. Sana. Sini. Standarlah.
Dia bertanya lagi, Trus trus? Apanya yang ini itu?
Kataku, Omongan si tentara culun nyebelin itu mungkin ada benarnya.
Dia tertawa, Tumben kamu merasa programer kamu bisa ngomong bener? Omongan dia yang mana?
Jawabku, Itu lhooo. Yang dia nyindir kalo aku suka merasa sok hebat. Mungkin aku memang ngerasa yang super hebat. Walaupun tetap lho ya, dia manusia paling bodoh, males & ngocol.
Dia masih tertawa, Kamu sok hebat?
Jawabku, Iya. Menurut kamu? Aku takut kalau aku sombong.
Dia bilang, Ah, enggak.
Kataku lagi kepadanya, Jujur.
Dan dia bilang, Oke, kamu kadang suka sok super hebat.

Aku diam.

Dia, Aku nggak belain dan bilang Ryan itu bener. Tapi iya, kadang kamu suka lupa diri. Kamu dominan. Kamu menganggap kalau dunia yang berputar di sekeliling kamu. Kamu suka meremehkan kemampuan orang, dan kamu judgemental. Kadang kamu bisa jadi tipe orang yang kamu benci.

Dia, Hei, kamu marah kalau aku bilang begitu?

Aku menggeleng.

Lalu...

Aku, Terus?

Dia, Kamu mau aku terusin?

Aku, Iya. Aku mau tau. Terusin.

Dia, Kamu nggak percaya sama kemampuan orang lain. Kamu cuma percaya sama diri kamu aja. Itu kadang yang buat kamu over confidence. Aku nggak bilang itu salah Yang. Tapi kamu harus belajar menghargai orang lain. Meskipun orang itu cara berpikirnya masih jauh di belakang cara berpikir kamu. Meski orang itu pengalamannya lebih sedikit dari kamu. Meski kamu tau orang itu lebih bodoh dari kamu, lebih lemah dari kamu. Tapi kamu harus ingat, kamu selalu bisa salah. Sehebat apapun kamu, kamu selalu bisa salah. Sama seperti semua orang itu. Kamu nggak selamanya benar.

Aku mendengarkan.

Dia, Kamu marah aku ngomong gini?

Aku, Enggak. Terusin.

Dia, Yah, gitu. Coba kamu pikir. Kamu begitu nggak?

Aku, He-eh.

Dia, Hehe, tumben kamu terima.

Aku, Kamu bener. Aku suka sombong. Suka lengah, suka lupa diri. Apalagi disini aku jadi bos, nggak ada satupun yang kritik aku.

Dia, Iya. Mungkin mereka, temen-temen kerja kamu, juga keberatan sama sifat kamu. Tapi karena mereka orang baik, mereka jaga perasaan kamu dengan nggak mengkritik kamu. Disitulah masalahnya. Kamu harus dikritik Yang. Kamu harus ditegor, ditampar, biar nggak keasikan merasa superior.

Aku, Aku tuh nggak ngerasa aku pinter, sumpah! Aku tuh bodoh Yong. Bodoh. Tapi di kantor itu, aku nggak punya contoh. Nggak punya guru.

Dia, Ya karena kamulah contohnya di kantor kamu.

Aku, Itu dia, makanya. Aku bukan contoh, aku justru perlu contoh. Aku perlu orang yang punya pendapat jujur. Aku perlu orang yang bilang kerjaanku jelek. Di situ dikit-dikit Brian bilang, ide aku bagus. Dikit-dikit Peter bilang, awesome-lah, appealing-lah. Padahal kalo liat kerjaan orang lain, kerjaan aku nggak ada tai-tainya. Makanya aku jadi pengecut. Jumawa-nya di kandang sendiri. AKu benci jadi kayak gitu. Aku pengen dicambuk di kandang sendiri.

Dia, Oke, bener. Tapi jangan sepenuhnya salahin orang-orang kantor kamu yang nggak ngerti kreatif & terlalu sering support kamu. Salahin diri kamu sendiri, kenapa kamu mau aja dibuai sama kata-kata yang kamu tau itu bukan pujian?

Dia, Intinya, Noran. Jangan sampe kamu jadi tipikal anak muda yang baru tau rasanya jadi bos. Jangan merasa kamu lebih hebat dari bawahan kamu. Jangan merasa kamu nggak perlu pendapat mereka. Jangan merasa kalau kamulah satu-satunya orang yang berbakat disana. Karena Noran sayang, dengan begitu kamu membohongi diri kamu sendiri. Kamu tau di luar kantor kamu banyak orang yang lebih hebat, tapi kamu dengan pengecutnya diam di kantor kamu dan merasa lebih pintar di sana, di antara orang-orang yang nggak mengerti kerjaan kamu.

Aku, Kamu bener. Aku jadi orang yang aku takutin. Ya ampun Gerry, pintar pun aku nggak boleh sombong. Apalagi bodoh.

Dia, Iya. Kamu kan pernah bilang itu.

Aku, Makasih kamu udah ingetin aku. Itulah. Aku selalu minta untuk ditampar setiap aku mulai sombong. Untung aku punya kamu.

Dia, Aku nggak mau kamu kecil hati juga. Di mataku, kamu pintar luar biasa, Noran. Tapi kamu harus menghargai semua orang, semua, nggak boleh pilih-pilih. Orang bodoh pun harus kamu hormati. Bukan hak kita kan, untuk ngeremehin orang lain?

Aku, Iya iya iya iya iya. Maafin aku

Dia, Yah Joni... Nggak usah minta maaf ke siapa-siapa. Kamu nggak selalu begitu kok... Kadang suka lupa aja... Itu kan wajar. Kamu dengerin aku ngomong aja aku udah seneng

Aku tersenyum, seneng banget. "Untung aku punya kamu."
"Aku yang beruntung, Noran."
"Tuhan, jangan pisahin aku dari dia ya." Lirih aku menggumam.
Dia memelukku.
"Tuhan, jangan pisahin aku dari laki-laki ini karena dia yang terbaik. Aku nggak mau yang lain, dia yang terbaik. Aku tahu itu karena hati yang kasih tahu."

Dia ikut berdoa, "Tuhan, jangan pisahin aku dari nyawaku." Dia meletakkan tangannya di perutku. "Dengan perempuanku, dan anakku,"

"Jagoan kamu gombalnya."
"Emang." Dia menciumku. Aku menikmati tenang di pelukannya. Menikmati peluh mengalir di lehernya. Menikmati harum kulitnya. Menikmati jemarinya membelai belakang kepalaku. Menikmati kata-kata yang berebutan ingin keluar melalui nafasku, kata-kata yang kewalahan menerjemahkan degap gemetar dadaku.

Waktu itu sungguh relatif. Kadang bisa sekejap berlalu mencuri fragmen kurang penting di hidup kita tanpa kita sadari. Dan kadang bisa... membeku. Mendiamkan dunia. Yang jadi penanda bahwa masa ini terjadi, hanyalah detak jantung. Aku bisa mendengarnya bagai aku berada di dalamnya. Aku tersasar, tenggelam. Yang ada di mata hanyalah hitam, dan yang ada di hati adalah ribuan warna-warni baru yang tidak pernah kulihat sebelumnya.

Aku mengecup lehernya, setiap sentimeter di punggungnya, sambil merasakan panas tubuhnya. "Aku nggak peduli kamu siapa. Laki-laki. Perempuan. Wadam. Aku nggak peduli titit kamu besar, kecil, bahkan nggak punya sekali pun. Aku nggak peduli bentuk kamu kayak apa. Aku nggak peduli. Aku cuma mau berzinah sama jiwa kamu sampe aku mati."

Dia melihatku lama.





Laaaaaaaaa.... ma.





Lama.







Lama seperti sebuah foto hitam putih yang aku pelototin. Lama seperti sebuah adegan di DVD yang aku pause, tanpa aku pencet play lagi.

Lama.

Lalu dia setubuhi aku. Tanpa sebuah kata pun. Lamat kudengar isaknya saat dia memelukku dan menekan tubuhku.

Yang bisa kulakukan hanyalah, tercekat. Pertama kalinya aku bersenggama tanpa sedikit pun suara, pertama kalinya aku merasa punggungku tidak menapak di gravitasi dunia. Pertama kalinya aku tidak berkedip sedikitpun, kutatap dan kubaca setiap aksara yang tersirat di raut mukanya. Kuhirup aroma kelapa dari shampoo yang biasa dia pakai, kuhirup lipat lehernya, tangannya, dagunya -- dalam-dalam. Sampai-sampai aku merasa kalau aku adalah dia.

Dan dia berbisik di telingaku, "Yang kamu zinahi sekarang, itu punya kamu."

"Huh?"

"Jiwa aku, kamu rasain nggak? Dia ada di dalam kamu, milik kamu. All yours."

Aku lunglai. Lalu mengejang entah dapat tenaga darimana. Kupeluk dia sekuat tenaga sampai kudengar detak jantungnya di dalam kepalaku. Kudengar jantungnya pecah. Kepalaku pecah.

Dan waktu juga mengejat. Semua terpasung, hanya dada kami berdua yang bergerak. Naik turun tanpa irama. Hanya keringat yang mengalir di sela kulit. Geli dan manis.

Dia tidak melepaskan aku. Dia bilang, "Kamu bisa buat aku orgasme hebat."
Aku tertawa.
"Iya bener. Yang pasti kamu super hebat di satu hal: buat aku orgasme."
Tawaku makin kencang. Dia pun tergelak.
Sampai akhirnya kamu berdua terdiam. Dan kembali saling menatap sambil mencari kata-kata yang bisa menjelaskan.

Dia menutup matanya, mencium keningku, bisiknya, "Tuhan, jangan pisahin aku dari perempuan ini. Aku mencintainya seperti aku mencintaiMu.



Tuhan. Jangan cemburu."

No comments:

Page copy protected against web site content infringement by Copyscape