Aku baru sadar. Ternyata kamu adalah orang yang paling sering menghapus air mataku.
Ternyata kamu yang selalu mencoba membalut lukaku setiap dunia menyakiti aku.
Ternyata kamu satu-satunya penonton setia episode-episode kegagalanku.
(Ya Tuhan, hidupku sering Kau selimuti dengan perih dan kecewa
dan Kau letakkan dia di sisi badanku setiap nyawa ini enggan bangun dan melanjutkan cerita.
Aku tidak punya petuah bijak. Mataku sedang tidak kasat, aku tak bisa menemukan siluet hikmah
dari gelap ini. Tidak, tidak Tuhan, aku takut. Kali ini aku takut. Aku kembali takut.
Aku meringkuk di pojok kamar berdebu tanpa lampu tanpa jendela. Debu dimana-mana. Entah apa yang bisa aku temukan di kegelapan ini, aku bahkan malas meraba untuk menyadari.)
Aku baru sadar. Ternyata nafasmu yang membelai tengkukku.
Bibirmu mengecup pundakku, bisikmu, "Aku bersama kamu di kamar ini."
Aku bilang, "Aku takut."
Kamu bilang, "Aku juga."
"Aku takut."
"Aku tau. Kita takut sama-sama,"
"Jangan kemana-mana,"
"Iya sayang. Kita diam di sini dulu aja. Kita nikmati takut sama-sama,"
21.12.08
Killed by
Noran Bakrie
at
7:40 PM
Subscribe to:
Post Comments (Atom)
No comments:
Post a Comment