25.3.09

Henfon butut getar-getar: "Yaaa...?"

Popo: "Kamu dimana?"
Aku: "Di kost-an Fabee. Tadi aku kelamaan nunggu Patrick di GI, jadi ke sini aja, mau numpang nyelonjor..."
Popo: "Ooo... Ini udah jam berapa. Pulang gih. Di rumah kan nggak ada orang, siapa yang nemenin Yoga."
Aku: "Iya, iyaaa... Kamu ditelfon Mama yah. Disuruh supaya suruh aku pulang. Iya ini aku pulang bentar lagi, ini mau telpon taksi,"
Popo: "Dimana kost Fabee?"
Aku: "Setiabudi."
Popo: "Ya udah pulang sekarang. Jangan kelayapan. Kasian Yoga sendirian."
Aku: "Huuuuu.... iyaaaaa..."
Popo: "Udah telpon taksinya?"
Aku: "Lah, beloom... Ini aja masih telponan sama kamu,"
Popo: "Oh iya. Ati-ati ya sayang, pulangnya. Dah mam?"
Aku: "Hmmm. Tadi siang mam Mie Tarik. Baru kelar mamnya sore-sore, jadi masih kenyang..."
Popo: "Kebiasaan. Makan kok sampe jam-jaman."
Aku: "Baweeeeel... Kamu dah mam? Tante Elsa (Mami tiri Gerry) masak apa?"
Popo: "Hmmmm... Biasa-lah, ikan, sayur. Ya udah, sana telpon taksi."
Aku: "Heeh. Daaah,"
Popo: "Daaah, take care sayang,"

Satu jam kemudian. Sampe rumah. Lampu taman udah idup, lampu meja makan juga idup. Bagus, berarti Yoga lagi 'lempeng' mau ngidupin lampu. Biasanya mah pulang-pulang gelap gulita kalo Mama pergi dari sore. Eh, lampu kamarku kok juga idup? Buka pintu kamar.

Popo duduk di tempat tidur, maenan laptop. Pake kaos putih bluwek Modern English favoritnya. Pake celana pendek. Dia pulang! Ya Tuhan, dia ada di kamarku lagi sekarang!
He belongs in here anyway :)
Wajahnya lebih pucat dari terakhir aku lihat. Badannya juga tambah kurus aja. Ranselnya di sebelah lemari. Tapi dia tersenyum.
Paling tidak dia tersenyum. Katanya, "Aku berhasil bujukin Papi berobat ke Pak Lukman yang di Bogor. Jadi sekarang Papi sama Tante Elsa ada di sini juga, di Ragunan. Nginep di rumah kakaknya Tante Elsa. Besok kamu temenin aku nganter Papi ke Bogor yaaa,"

Mau tau gimana perasaanku? Hmm. Hmmmmmmm. Aku nggak tau gimana jelasinnya. Pokoknya dada ini bawaannya udah riuh, detak-detak jantungku berebutan mau jauh-jauhan meloncat keluar. Senyumku tak mau terlepas dari muka. Aku cuma bisa melompat ke pangkuannya dan bilang "Haaaaaaaaaaaa.... Aku kangen kamuuuuuuuuuuuuuuuuuu.....!!!"

Dan dia bilang, "Aku juga. Kamu pikir kenapa aku disini sekarang...? Heh? I love you, my beybiiiiiiyyy..." sambil menyelipkan tangannya di punggungku, memelukku kencang dan menciumiku tanpa henti.

>.<

Ternyata nggak sia-sia hampir satu minggu ini saya setengah mati mengalihkan perhatian darinya dengan cari kesibukan sebanyak-banyaknya. Bahkan saya bela-belain begadang tiap malem karena nggak mau tidur dalam gelap sendirian tanpa dia di samping saya.
Mungkin Tuhan lihat lingkaran mata saya semakin hitam karena kurang tidur, makanya dia membujuk hati Papi Gerry untuk mau ke Jakarta. Supaya anaknya bisa sama saya lagi, nemenin saya sampe saya ketiduran lagi. Makasih Tuhan. Sudah lama saya lupa merasa apa artinya berkah, sekarang saya ingat lagi. Makasih ya Tuhan! :)

No comments:

Page copy protected against web site content infringement by Copyscape