Seharian pergi nemenin Retha survei lokasi buat video tugas akhirnya. Ke Serang Barat, Anyer & sekitaran Pandeglang. Dari rumah jam 3 pagi (huah), nyampe Jakarta jam 9an lah.
Malem sebelomnya, Gerry & saya berantem 'kecil'. Oke, nggak 'kecil', agak gede-an dikitlah. Padahal 20 menit sebelomnya we just really had a great intense mindblowingly laid, okay - two, trus saya keceplosan ngomongin karir saya & keinginan untuk relocate ke luar negeri seperti Bangkok atau Singapur.
Sebenernya ini adalah topik yang dari dulu Gerry pengen omongin. Dia udah membaca gelagat saya yang gelisah mencari rejeki di Jakarta.
Jadi waktu saya bilang saya kepingin mulai siap-siap relokasi di pertengahan Maret, Gerry nggak setuju. Saya bilang, pertimbangannya, uang saya tinggal sedikit. Musti saya pake untuk beli tiket pesawat & setidaknya bayar kontrak tempat tinggal satu bulan, sebelum akhirnya ludes. Saya nggak bisa lama-lama jadi pengangguran. Too risky. Nyokap & adek saya akan terus menagih gaji invisible saya, kalo nggak buru-buru di-invest ke lokasi baru, saya bisa-bisa keburu bangkrut.
Dan marahlah Gerry. Dia tersinggung hebat kayaknya. Karena saya nggak berharap kalau saya masih bisa dapat uang dari dia. Kalau, well, mengutip kata-katanya, "Kok bisa-bisanya kamu nggak mempertimbangkan saya sebagai orang yang akan men-support kamu?? Apa saya emang nggak punya fungsi apa-apa ya, buat kamu, selain buat digejolin??"
Saya pun kehabisan kata-kata. Dalam hati cuma bisa bilang, "Booook. Sensi amat." Saya tau percuma membalas kata-katanya dalam kondisi kayak gini. Jadi saya diam. Eh, taunya salah juga. Gerry tambah marah karena merasa dikacangin.
Jadi saya bilang, "Saya yakin kamu akan support saya. Masalahnya, saya juga harus support Mama dan Yoga. Ini masalah klasik, dari dulu kamu tau, pengeluaran mereka besar. Saya nggak bisa membiarkan mereka merepotkan kamu."
Eh tau-tau Gerry melempar handphone-nya. Saat itu barang terdekat memang handphone. Untunglah bukan laptop, hehe. Cukup buat saya kaget. Saya keluar kamar, bahkan saya malas repot-repot pasang baju. Peduli amat kalo ibu saya nge-gap-in saya jalan-jalan telanjang di rumah. Saya deg-degan aja. Takut. Takut Gerry kelewatan. Lagi. Gerry sering kelewatan. Saya nggak mau satu kamar dengan emosi dia yang kayak gitu.
Saya dengar dia ngedumel di belakang saya. Intinya tentang saya. Gengsi. Harga diri. Makan tu gengsi. Dominan. Meremehkan laki-laki. Gerry merasa nggak punya arti. Nggak punya peran. Blablabla.
Huaaaahhhh, pengen rasanya teriak. Emang selama ini saya kurang sayang apa ke dia? Saya nggak mau merepotkan dia justru karena saya sayang dia, nggak mau membebani dia! Kok masih nggak nembus di kepala dia sih?
Ngatain saya yang keras kepala. Ngatain saya yang gengsinya selangit. Sekarang saya tanya, kalau gengsi dia juga nggak kalah tinggi, ngapain issue kayak gini aja buat dia merasa terkucil? Saya nggak mencintai dia karena dia menghidupi saya kok. Saya mencintai dia karena dia buat saya mencintai hidup saya! Mikir kayak gitu dong.
Makanya saat itu juga, saya telpon Retha. Jam 3 pagi. Minta jemput. Enek saya deket-deket sama Gerry saat itu. Taulah rasanya gimana, buat yang pernah berantem sama pasangan. Kesel. Bawaannya hati dah mendidih aja dengerin suara dia marah-marah. Jadi saya pergi dari rumah, nggak mandi, pake baju seadanya. Bahkan muncratan-muncaratan si Gerry di badan saya cuma saya lap pake tissue dan antis, ihhhhhh. Enek. Kalo hari itu saya kecelakaan dan meninggal, saya akan mati sebagai orang haram, kalo kata agama, hahahaha.
Jam 2 siang, saya habis makan siang nasi timbel di daerah Pandeglang. Gerry nelpon saya. Telpon pertamanya ke saya hari itu, jadi saya angkat.
Lama Gerry tidak berkata apa-apa setelah saya meng-halo. Dan dia bilang, "Papi itu sakit,"
Papi itu bokapnya Gerry. Saya bingung, "Sakit apa?"
Gerry bilang, "Makanya kemaren saya berniat musti ke Medan. Papi nggak mau ngaku. Tapi Om Husni, bilang sama aku kalo Papi tuh udah sering ke rumah sakit. Nginep sampe 3 kali. Katanya, jantung. Panjang-lah detailnya yang, aku belom cerita sama kamu kemaren. Aku mau cerita sama kamu sebenernya semalem,"
"Kamu kenapa nggak cerita? Kamu tau kapan?"
"Abis... abis kemaren itu kan Yoga progres-nya bagus. Mama juga lagi seneng karena Yoga mendingan, udah bisa jalan-jalan kita ajak ke Hanamasa. Ngajakin nonton di bioskop. Kamu dan Mama dan Yoga kayaknya lagi seneng banget. Mama aja sampe nangis terharu gitu liat Yoga mendingan..."
"Hmmm... trus?"
"Aku cuma nggak kepingin spoiling minggu kemaren dengan berita ini,"
Saya (gantian) agak marah. "Kamu nggak bisa gitu. Kamu nggak bisa gitu dong!"
"Saya nggak pengen memberatkan kamu saat itu."
"Nggak bisa. Kita pasangan. Harus share semua. Nggak bisa, nggak bisa dong,"
"Yah ini kan saya cerita. Saya ngaku semalem saya itu emang stres dikit. Makanya denger kamu mau ninggalin saya, yahh..."
"Saya nggak mau ninggalin kamu. Saya ngajakin kamu."
"Saya nggak bisa ninggalin Papi kan! Kamu akan ninggalin saya!"
Kami berdua diam-diaman. Lama.
Saya malu. Saya merasa bersalah. Saya nggak terima. Saya kaget. Campur aduk deh.
Sekali lagi ini membuktikan kalau saya dan Gerry itu kepalanya bagai buah pinang dibelah golok - perciss. Kembar. Pemikiran kami copy-paste. 11-12. Sama aja. Sama-sama gengsinya tinggi, sama-sama nggak mau membebani pasangan dengan cara masing-masing, padahal ujung-ujungnya justru merepotkan masing-masing. Entah kenapa saya merasa getir dengan kenyataan itu -- tapi di saat yang sama, saya menemukan ini sebagai hal yang manis. Kami sama persis, kami nggak usah capek-capek menyesuaikan frekuensi pemikiran, walau di satu sisi, karena frekuensi kami sama, kadang sering beradu.
Ah saat itu saya cuma ingin pulang dan memeluk dia. Nggak mau ngelepasin dia sampe minggu depan, hehe.
Makanya kemudian saya dengan rese'-nya ngeburu-buru Retha untuk cepat pindah survei ke lokasi berikutnya. Cepat. Cepat. Kelarkan semua. Pas pulang pun, saya yang nyetir. Di perjalanan Retha ngeluh laper, saat itu jam 6, katanya maag-nya kumat. Yasudah, akhirnya menepi ke pom bensin di tol, makan Solaria. Online di facebook bentar, masang status "I deserve my freedom to make mistakes", nothing particular. Cuma pengen bilang, kalau saya selalu bisa salah, salah pikir, salah sangka, salah ambil keputusan - tapi saya berhak mendapatkan hikmah dari kesalahan itu. Dan Gerry ternyata online, langsung balas, "Only if you can afford the consequences". Ha, dasar Libra! Selalu ragu-ragu. Jadi saya bilang maksud dari status saya, dan dia bilang "Cepet pulang. Kangen nih." Huaaaaaaaaaaaaa... Langsung deh minta bill di Solaria, buru-buru masuk mobil, nyetir lagi. 2,5 jam aja tuh, dari Anyer ke Jakarta. Hahah. Saya mampir sebentar transfer video di rumah temennya Retha. Baru kemudian dianter ke rumah.
Sampe rumah, jam 11an, Gerry lagi nemenin Yoga main PS. Saya cuma ngintip sebentar ke kamar Yoga, nyetor muka. Terus ke kamar saya, mandi. Gerry udah di tempat tidur saya pas saya keluar handukan. Nanya saya udah makan apa belom. Saya bilang, udah.
Saya hampiri dan peluk dia. Lama nggak ngomong apa-apa. Saya cuma seneng akhirnya bisa meluk dia, seharian cuma itu yang saya pengen lakukan.
Dia bilang, "Maafin aku semalem,"
Saya bilang, "Maafin aku,"
Setelah beberapa lama beradu maaf-maafan kayak lebaran, akhirnya kami berdua ketawa. Gerry menceritakan detail penyakit ayahnya, walau dia sendiri belum tau pasti karena belum ngobrol sama dokter. Karena ayahnya - yang lebih keras kepala lagi - melarang Gerry dan anak-anaknya yang lain untuk nanya-nanya ke dokter. Namun intinya, Gerry akan ke Medan minggu ini. Udah hampir setahun juga sejak terakhir dia ketemu Papi. Dan Gerry berniat mengajak saya. Saya mengangguk. Toh saya pengangguran ini kan.
Dia memangku saya dan nanya, "Gimana niat Bangkok dan Singapur kamu?"
"We'll see."
"Kok we'll see?"
"Kan saya pergi kemanapun angin berhembus, hehehe,"
"Kok...?"
"Siapa tau dari Medan, saya malah langsung ke Singapur,"
"Oooo..."
"He-eh. Trus, dari Singapur, saya ke Bangkok... Atau kemana aja juga jadi..."
"Kamu akan ngajak aku?"
"Kalau kamu mau,"
"Kalo aku nggak mau?"
Saya tersenyum. "Kamu biasanya mau,"
"Kadang saya nggak mau."
"Kamu selalu mau. Kamu nggak pernah nolak,"
"Oh ya. Contohnya?"
"Sekarang." ucap saya lembut. Saya mencium bibirnya pelan. Memainkan lidahnya sampai saya dengar nafasnya mendesah dan terburu, membuka kaosnya dan membiarkan jemarinya membuka ikatan dan menarik handuk saya. ;)
Hahahaha -- sex is the best cure, people! Note that. :)
2.3.09
sunday journal
Killed by
Noran Bakrie
at
12:17 AM
Subscribe to:
Post Comments (Atom)
No comments:
Post a Comment