2.4.09

kamis dini hari
lampu kamar kunyalakan
selimut masih di luar, belum kering
sprei kurapikan
pipis sebelum siap bermimpi
kutumpukkan bantal guling di sekitar
aku tengkurap baca milan kundera
pakai kutang. malas pasang celana dalam
setel itunes. cocorosie merasuki dinding
kamu pulang. letakkan ransel di samping kasur
kataku, "udah makan?"
kamu menatapku sekilas
matamu tersenyum
dan berlalu ke kamar mandi. cuci muka
ganti baju. pakai celana batik favoritmu
dan kaos the misfits hitam gombel
bersila di sampingku
tanganmu meraba pinggangku
bibirmu mengecup pinggul dan pantatku
aku menyelipkan bookmark dan menutup novelku
kecupanmu menjalar ke punggung, leher, muka
aku sengaja berlama mengagumi wajahmu
kutanggalkan kacamatamu
katamu, "i missed you today."
kataku, "siapa suruh lembur,"
katamu, "terribly."
kataku, "makanya jangan lembur."
katamu, "hmmm... maunya sih jangan,"
kataku, "aku benci soalnya,"
kamu bertanya dengan gerak alis terangkat
"aku benci kalo kamu lembur."
kamu ketawa kecil
katamu, "mana lusa aku akan puasa kamu,"
aku terkekeh. "jangan suruh aku pulang duluan lagi ya. tiketnya mahal,"
"terus kalo aku kangen?"
"hmmm. kan kamu akan sibuk ngurusin papi di bogor,"
"iya. bukan berarti aku berhenti kangen,"
"hehehe. lho, puasa kan ibadah?"
"kalo mesti puasa kamu, aku mending jadi murtad aja."
"husss."
"12 hari. i'm gonna miss you,"
"aku juga, sayang. aku mah akan selalu rindu kamu.
sekarang pun aku rindu, padahal ada kamu di sini.
tapi kamu tau apa yang buat aku cengengesan soal trip backpack ini?"
"apa?"
"knowing that i will come home. to you. you're my home.
i can't wait for that."
kamu tersenyum, matamu memandangku lekat.
katamu, "aku cemburu sama dunia dan kebebasan."
aku tergelak. "don't worry, i love you more than them."
katamu, "it's okay. maybe i love you because you love them. i don't mind to compete."
"nah. there's no competition. you stand out pretty clear, mister."
"thank you,"
kamu menempelkan ujung hidungmu ke ujung hidungku
senyummu makin lebar walau aku tak bisa melihatnya
kamu hadapkan kedua matamu ke kedua mataku
terlampau dekat
mau tak mau yang kulihat
adalah pantulan diriku di hitam pupilmu


You are the most beautiful book,
written in ten languages I would never understand.
You are the book I have to read before my sleep.
You are the words I have to interpret to comprehend this world.

No comments:

Page copy protected against web site content infringement by Copyscape