Kamu pun pulang. Letakkan sebungkus burung goreng di meja makan, karena malam kemarin, aku sekilas bilang, "Huaa, ngidam burung goreng!"
Saat itu kamu bertanya, "Yang dijual di pinggir jalan deket Harmoni?"
"Iya. Keknya enak aja, asin-asin, panas-panas... Nyamnyamnyammmm."
"Udah abis 'kali sekarang. Jam 10 gini,"
"Iya. Udah abis. Biasanya abis jam 8an. Nevermind Po, aku cuma kepikiran aja. Ngidam nggak jelas." Aku cengengesan.
Tadi kamu letakkan kantong isi burung goreng itu di meja makan. Bilang ke Mama kalau itu buat aku dan kami, lalu kamu masuk ke kamar dan membereskan bajumu.
Meski harum burung goreng panas itu mengumbar kemana-mana, perutku mulas. Ulu hatiku mengejat-ngejat gelisah.
Aku menyusulmu ke kamar, bilang, "Ini maksudnya apa?"
Kamu bilang, "Aku perlu waktu sendiri."
"Trus kamu mau kemana?"
"Mau ke Ragunan aja. Temenin Papi sementara,"
Aku tercekat. "Dan kita tidur sendiri-sendiri?"
Katamu, "Iya."
"Aku mana bisa."
Lama kamu nggak bilang apa-apa. Lalu, "Kamu sering buat aku gila, oke? Kasih aku waktu.
Aku juga nggak mampu kalo kita pisah. Tapi aku perlu mikir tanpa ada kamu."
Tanpa kusadari aku merengek. "Nggak mauuuu... Aku nggak sukaaaaaaaaaa... Nggak mau, nggak mauuuu... Nanti kamu nggak balik lagi,"
"Eh liat. Aku cuma bawa kaos seadanya. Buat nginep di Ragunan sementara aja. Palingan minggu depan aku balik lagi, we'll see."
"Kamu sama aja sama Loh. Bilangnya bakal balik lagi, padahal bullshit.
You guys speak the same language. Bullshit."
Dan kamu kembali menamparku. "Sebut nama dia sekali lagi, ayo!"
Aku menggeser tubuhku mundur. Pipiku tiba-tiba kejal. Mataku panas. Rasanya mau teriak sekencang mungkin.
Kamu melemparkan ranselmu ke dinding, dan menghampiriku. "Tau maksudku dengan gila? Aku udah nampar kamu tiga kali dan nyekek kamu sekali dari semalam. Argh. Please. Aku nggak mau nyakitin kamu terus-terusan.
Aku perlu waktu sendiri. Nggak ada kamu. Nggak ada bayangan kamu. Nggak ada bayangan kamu ngent*t sama nelayan Thailand anjing itu. Itu yang buat aku gila! Ngerti?"
Aku mengangguk pelan. "I love you," bisikku hampir tanpa suara.
Kamu menatap mukaku lekat.
"I'm a jerk. And I love you." ucapku lebih keras sedikit.
"You're a fucking jerk."
"And I love you."
"We both fucking jerks."
"And I love you."
"You shouldn't fuck anyone but me. You know it, we have that fucking monogamy thing we've already agreed. You're the one who promises me that."
"I'm guilty as charged."
"I shouldn't let you go to that fucking backpacking trip. I should have known you will fuck things up, like you always do."
"I love you."
Mata kita bertemu di dalam kepala. Ah persetan. Sejak kapan aku berpikir sebelum bertindak?
Kucium dia tanpa habis-habis. Aku tau dia nggak akan menolak. Kulepaskan sweater-nya, kaosnya. Kubuka ikat pinggangnya, kupijat penisnya, sambil kumainkan lidahnya. Kuciumi dia sampai nafasnya habis. Kuciumi dia tanpa henti, kunikmati bunyi halus erangannya saat selangkangan celananya semakin sempit. Kukecup dan jilat semua bagian di mukanya, alis tebalnya, bulu matanya, kelopak mata. Pipi, dahi, dagu dan telinganya, lalu kuciumi lagi lidahnya. Aku merasa tangannya meraba pinggang dan payudaraku, meremasnya kencang-kencang dan kemudian ia membuka kaos kutangku. Lalu tangannya mendorong kepalaku untuk turun ke selangkangannya, aku tidak menurut, aku terus menciumi mulutnya. Aku cuma mau mulutnya. Penis besarmu musti puasa lubang sekali-kali, sayang.
Kugesekkan sela pahaku ke selangkangannya, aku tau kamu sesak. Kamu menggendongku dan mendorong tubuhmu ke arahku, lihai aku mundur. Kamu semakin sesak. Now you know what you will miss if I'm not there, my beau.
Kamu merintih, "Jangan gerak."
Aku terus memagutkan bibirku di tebal basah bibirmu. Kujauhkan pahaku dari cengkramanmu. "Tinggal disini malam ini yah?"
"Oke," bisikmu. "Sekarang jangan gerak,"
Kubiarkan kamu mendorong dirimu dalam-dalam ke celah selangkanganku. Aku nggak berhenti menciumi kamu, sampai aku berteriak, menangis nggak kuat menahan nikmat dan sampai kamu meledak, nggak sekalipun kubiarkan mulut kita berpisah. Lidah ini rasanya kuat menyapu rongga mulutmu selamanya. Selamanya. Selamanya. Selamanya.
Dan kamu bertanya lemas, "Where did you learn to kiss like that?"
Di malam sebelumnya, aku mengaku ke Gerry kalau aku dan Loh silap sekali di malam keduaku di Phi Phi saat backpacking kemarin. Jangan ditanya kenapa alasannya. Sumpah cuma benar-benar silap. Aku ketemu Loh dan tiba-tiba aja aku udah di pelukannya lagi. Gerry murka luar biasa, aku memohonnya untuk nggak perkosa aku seperti yang biasa dia lakukan kalau marah. Enggak sih, cuma dia menamparku dua kali dan mencekek leherku saking emosinya, sampai-sampai aku gelegapan kehabisan nafas. Aku juga mukulin dia karena kaget, tapi apalah artinya tenagaku. Akhirnya aku nangis-nangis merasa bersalah semalaman. Nggak berani minta maaf karena ini memang nggak termaafkan. Nggak berani memohon dia untuk jangan putusin hubungan kita karena dia berhak melakukan itu. Aku cuma bisa merasa bersalah. Aku rela sepenuh hati diperlakukan seperti sampah, dan malam itu Gerry memang memperlakukan aku seperti sampah. Aku tau aku nggak punya harga diri, tapi disatu sisi, aku menikmati segala perlakuan kasar dan kurang ajarnya. Setelahnya dia mendorongku jauh-jauh dan kami pun tertidur di ujung sisi ranjang masing-masing.
Makanya aku kaget ternyata dia masih ingat kalau aku ngidam burung goreng semalam, dan masih bela-belain beliin buat aku. I knew it, I knew it. I know he loves me, semarah-marahnya dia, he loves me. Maka itu pula aku impulsif menciumi dia karena aku nggak tau cara lain untuk nahan dia supaya nggak ninggalin aku malam itu. I know him like the back of my hand. I love him, I'm a jerk and I love him.
18.4.09
Killed by
Noran Bakrie
at
11:50 PM
Subscribe to:
Post Comments (Atom)
No comments:
Post a Comment