emakku kerutnya berlipatlipat,
matanya kecil sebelah.
setiap kuminta ia tersenyum,
bibirnya sih menyungging ke atas di tepi
tapi kok mukanya selalu menangis?
dulu semua orang bilang emakku itu awet muda
umur 55, tapi nampak 50. karena selalu bercanda bangor
dan cengengesan tanpa henti sambil mengedut gudang garam kreteknya
terkadang dia mengaji. senandungnya indah sekali
aku suka terlelap sambil mendengarnya mengurai nada berkata arab
aku tau dia selalu menahan getir karena aku tidak pernah sholat atau puasa.
tapi akupun tau, dia tau aku menyanjung dirinya diatas hidupku.
tempatku tidaklah lebih tinggi dari selangkangannya.
emakku bilang, "kamu anak keras kepala. anak aneh. emak benci.
walau emak selalu tidak percaya, tapi emak percaya. emak tau kamu anak baik."
atau, pernah juga emakku bilang, "kita tidak cocok! sudahlah. tidak cocok!"
dan biasanya aku bilang, "biariiiin...! pokoknya saya mau sama emak!"
hehehe.
sesudah itu malamnya, saya suka mengupingnya saat dia berdoa sesudah sholat,
katanya, "yoga, emak kangen kamu. emak pengen ketemu kamu.
tapi masih ada kakak kamu yang keras kepala itu di sini. dia belum mau nikah juga.
nanti siapa yang jagain kakak kamu kalo emak nggak ada? emak disini dulu ya, yoga?
yoga disana sudah ditemani allah kan ya, ga?" -- lalu dia menangis sesenggukan.
ya! sejak yoga pergi, emakku mukanya mendadak tua.
kadang keras guratnya berpesan kalau kuat jiwanya,
namun lebih sering lagi... lembek mukanya menangis meraung-raung tak kuasa mengingat yoga anak bungsunya
anak yang datang berdarah-darah dari kemaluannya,
tumbuh besar menghisap asi payudaranya,
anak yang karena dia-lah, emakku menghadang tajamnya hidup sendiri tanpa suami
dan uang. anak yang karena dia-lah, emakku mengerahkan semua harta dan keringatnya,
karena emakku ingin yoga sembuh.
ah siapa yang bisa bayangkan, rasanya jadi emakku. aku sih tak bisa-bisa.
tapi aku bersyukur akan satu hal, aku bersyukur, emakku mencintaiku lebih sedikit dari dia mencintai adikku.
karena aku keras kepala! dan adikku, walau dia sakit, dia berhati mulia.
aku bersyukur emakku lebih mencintai adikku daripada diriku.
karena aku tidak mau, saat aku mati nanti, aku menghancurkan hati ibu kandungku.
membunuh semangat hidupnya dan menjebaknya dalam kemeratapan yang berlarut-larut.
ah. aku tak mau jadi begitu.
ya mak ya? aku takkan biarkan kamu bersedih lagi.
kalau sampai aku mati duluan nanti, jangan bersedih lagi.
awas kalau emak menangis. bisa meraung-raung aku nanti di liang lahat.
~ Singapura, 21 Juli 2009
Biasa deh, PMS dipadu dengan mama yang kecewa & emosian. Habis berantem, kami naik ke dalam bis tur di Singapura tanpa berkata-kata. Duduk bersebelahan tanpa bilang apa-apa cuma bisa merasa menyesal di dada. Lalu aku menjabat tangannya dan bilang, "Yuk, baikan." Dia tersenyum dan kami menyadari betapa hal-hal konyol bisa menjadi besar jika kita menyayangi seseorang terlalu hebat. I love you, mother. God bless us all, amin.
21.7.09
Killed by
Noran Bakrie
at
11:39 PM
Subscribe to:
Post Comments (Atom)
2 comments:
Awwwww, si emak.... lucunyaa hihihi! Jadi kangen mamaaa
hehehehe... iya, emakku itu lucu sekalii. well mom are the best, dont they?
Post a Comment