16.9.09

Tuhan. Katamu aku mesti syukuri hidup.
Tiap saat aku mencoba dan mencoba
melakukan apa yang kamu minta
sambil menyaksikan Hidupku meraung ingin mati
sambil menyadari bahwa sedikitpun dia tidak ingin bertahan lagi
sambil mengorek-ngorek sisa semangat yang tersisa
sampai kaki ini tidak kuat melangkah,
dan tenaga ini menguap entah ke mana.

Kini aku diam.
Diam berdiri tegak, tanpa geming.
Di malam hutan berkabut hitam.
Semua penghunimu terlelap, hening.
Aku menunduk. Menutup mataku, menyapa kelam.

Berbisik lamat-lamat pada kepalaku,

"Tenang, tenang... Shhh... Tenang.

Tenang, sayang. Kini semua telah menghilang.
Biarkan mereka pergi,
senyummu, jiwamu, hidupmu.
Biarkan mereka pergi.
Kamu perlu sendiri bersama dirimu."

Tuhan, aku tidak peduli akan bahagia yang kau janji-janjikan ke semua manusia.
Aku tidak peduli pada keindahan makna hidup yang kau gembar-gemborkan ke segala hamba.
Aku tetap percaya padamu tanpa semua itu.

Kini aku sendiri, jangan bilang semua akan baik-baik saja.

Aku sendirian, semua tidak akan baik-baik saja,
tapi tidak apa-apa.
Biarkan aku bernafas dalam gelap, lamatlamat
sampai aku kiamat.

No comments:

Page copy protected against web site content infringement by Copyscape