16.1.10

Landing di Jakarta, Gerry langsung ke apotik. Di airport, apotik sudah tutup jam segini.
Jadi pas pulang, kami minta supir taksi mampir sebentar ke apotik 24 jam di Bintaro.
Saya sudah bilang, besok saja ke apotik. Sekarang sudah jam dua pagi, badan rontok, kepala berat, kita berdua baru pulang dari perjalanan 14 hari, bekerja, lengkap dengan adegan terbang, badai, dan lebih dari 10 hari melaut, dalam hati saya sudah meraung-raung di taksi perjalanan pulang.


Kenapa Gerry begitu kekehnya cari apotik?
Karena saya sudah tidak mens sejak bulan November. Dan memang selama sebulan terakhir ini saya gampang enek dan dikit-dikit sakit, masuk angin-lah, kecapekan-lah, pusing-lah, flu, batuk. Dia baru ngeh, dan penasaran pengen beli test pack.

Kenapa dia begitu kepingin tau?
Karena dia ketakutan kalau saya hamil.
Padahal kemarin-kemarin dia semangat banget menghamili saya, dan sedari dulu kami berdua sudah tau, kalau Gerry kepingin banget punya anak. Kita pernah hamil namun akhir tahun 2008 lalu, kami keguguran. Keguguran itu pukulan hebat buat saya, sejak itu saya berpikir dan berpikir kalau mungkin sebenarnya saya belum siap.
Kami sudah diskusi soal siap tidak siap ini, akhirnya Gerry bilang, kita jalanin semuanya santai aja dulu. Medical check up, coba hidup lebih sehat, terapi kromosom... sampai mental benar-benar siap lagi.
Dan memang akhir-akhir ini, sepertinya Gerry ngebet lagi kepingin anak, walau dia tidak terus terang mengutarakan, namun keliatan-lah dari tingkah lakunya. Dia suka ngomongin anak temen-temennya, dia curhat sama ibu saya... dan setiap kami have sex, dia selalu menuntaskan setiap ejakulasinya di dalam saya. Habis itu sampe bela-belain memangku paha saya lagi, dan selalu suruh saya untuk jangan banyak gerak sambil senyum-senyum manis biar saya gak tega nolak, hehehe...

Lho, kenapa sekarang dia takut kalau saya ternyata hamil?
Bermula dari berita bahwa salah satu teman kami, Wenty, hari ini meninggal dunia.
Kami dapat kabar itu tadi malam ketika transit di Denpasar dari Flores menuju Jakarta.
Turun dari pesawat, ambil bagasi, keluar buat ngerokok, nyalain hape, masuklah sms itu. Yang mengabarkan kalau pagi tadi Wenty udah nggak ada. Kaki saya langsung lemas, karena kami tau, Wenty itu hamil! 7 bulan kalau nggak salah.
Gerry nelpon temennya, dan berceritalah dia. Wenty meninggal saat melahirkan anaknya, pendarahan di plasenta. Anaknya lahir prematur, 7,5 bulan, lemah, namun selamat. Kami nggak dekat-dekat amat dengan Wenty, cuma sering ketemu, ngobrol dan ketawa-ketiwi karena kami dan Wenty berteman dengan orang-orang yang sama. Namun yang saya lihat dari dirinya, anaknya sweet banget. Biar rada centil seperti weyce-weyce metropolis lainnya *halah* tapi keliatan dia orang yang baik dan nggak sombong/sok/tengil *seperti template weyce-weyce metropolis pada umumnya*
Dan ternyata emang bener ya, Wenty itu orang baik, setelah saya pikir-pikir lagi. Meninggalnya hari Jumat, which is the best day to die for Muslim. Dalam keadaan melahirkan anak manusia pula! Mati syahid dong ya, istilahnya... Wenty, losing you breaks my heart, but... you die in a beautiful way :)
I wish I can die like that.
Jadi inget Yoga. He also died in a beautiful way...
Anyway, sebelum melantur, saya iseng ke akun twitter-nya Wenty. Dan subhanallah, saya beneran joprak saking lemesnya baca tweet-tweet terakhir dia. Dia bilang kata-kata seperti, "Aku mau pulang" atau "Take me somewhere I can breathe" atau "Your love is my relieve"... Setengah mewek saya terus scroll down trackball saya, sampe ke kata-kata yang kurang lebih bilang (agak-agak lupa yang ini, panjang soalnya), "Hamil itu menderita, melahirkan itu tarohan nyawa. Tuhan, biarkan aku tidur nyenyak malam ini..."
Twitter mungkin adalah hal teremeh yang bisa buat saya nangis, tapi menangislah saya. Nggak tau kenapa, tapi kok rasanya hati saya kayak digerus-gerus bacanya.
Kami melanjutkan penerbangan ke Jakarta dengan muram. Wenty diantar ke Sumedang tadi siang, cepat sekali ya nyawa berlalu. Saya merinding mengingat tadi pagi, saya bercinta dengan Gerry dan main-main air snorkeling di Pulau Komodo, sedangkan di tempat lain, Wenty sedang berjuang melahirkan nyawa ke dunia, menghadang sakratul maut, dan kalah.
Ya Allah, mengingatnya saja udah buat saya merasa kecil dan nggak berarti. Apalah taunya saya soal maut, saya baru sadar. Padahal sering kali saya berpapasan, saat maut satu per satu mengambil ayah dan adik kakak saya, jabang bayi saya... namun tak sekalipun saya menyapa dan berkenalan dengannya. Padahal kalau saja saya bisa berhenti sebentar dan bersalaman dengannya, mungkin itu bisa buat saya lebih mengerti tentang hidup, siapa tau dia bisa menjelaskan...
Saya nggak bisa berhenti berpikir di pesawat. Saya teringat dulu ibu saya juga pernah cerita, nenek saya pernah berteriak murka saat melahirkan tante saya (Adik ibu saya)... Karena saat itu kondisi bayi dan dirinya sangat kritis, sehingga bidan bilang, kalau hanya salah satu yang bisa dipertahankan, antara si Ibu dan si Bayi. Siapakah?
Nenek saya bilang, pertahankan si bayi. Namun kakek saya, melarang keras dan menyuruh bidan untuk mempertahankan nyawa nenek saya. Nenek saya meraung ketika tersadar dan tau bayinya tidak selamat. Dia marah dan sakit hati ke Kakek saya selama bertahun-tahun, walau pada akhirnya setelah setelahnya, Nenek saya masih diberi kekuatan untuk melahirkan 6 anak lagi.
Well anyway, kesimpulannya, menurut saya Kakek saya masih salah. Walau pada akhirnya, sebenernya sih, keputusannya oke juga-lah, buktinya lahir 6 adik-adik Ibu saya kan? Tapi laki-laki, sebesar-besarnya kasih sayang mereka terhadap istri dan anaknya, mereka bukan ibu. Mereka mana tau rasanya mengandung nyawa, laki-laki mana tau seperti apa kehormatan yang dirasakan calon ibu ketika mereka tau mereka dipercaya Tuhan untuk membawa utusanNya ke dunia.
Kalau saya ada di posisi Nenek saya, saya mana kuat membiarkan manusia yang keluar dari diri saya, pergi secepat itu. Dia anak saya, dia anak dari laki-laki yang saya cintai. Masa' saya biarkan dokter-dokter itu membunuhnya?

Maka saya bilang sama Gerry di pesawat terbang, "Kalau nanti aku melahirkan anak kita, dan kaloooo... kalo nih ya, kita kan musti prepare dengan segala skenario Po... Aku nggak tau prosedurnya gimana, ataukah ditulis di Informed Consent sebelum seorang ibu bersalin... atau memang ditanya begitu sudah genting... Tapi... Kalo aku kenapa-napa pas ngelahirin anak kita, dan kamu sebagai pasangan harus milih siapa yang dipertahankan nyawanya... Aku pingin kamu jawab, kamu akan pertahankan nyawa anak kita."
Gerry diam. Lama dia nggak jawab. Akhirnya dia bilang, "Kita capek yang. Aku nggak mau ngomongin ini,"
"Please say, you will keep our child."
"Kamu kok mikirnya yang aneh-aneh sih yang... Aku nggak mau mikir ke situ dulu..."
"Aku kan cuma berandai-andai, kalauu... Worst case scenario-nya... Kalo good news-nya sih nggak ada masalah... Tapi siapa tau aku adalah salah satu ibu yang nggak bisa kasih good news ke kamu...

Don't we suppose to think about that?"

"Aku nggak kuat mikirin itu sekarang..."
"Tapi..."
"Please. Drop it." ucap Gerry agak judes.

Saya yang dari tadi emang udah termehek-mehek ini jadi kembali berkaca-kaca dijutekin begitu. Kok enak banget dia ngomongnya? Toh selama ini dia getol pengen buat saya ngelahirin anak-anak dia. Helloo, kalo lahirnya lancar jaya sih memang lucu-lucu, samalah seperti anak-anak temannya, bisa dibuat mainan nan pelipur lara, dan dipamerin ke orang-orang. Tapi kalo nggak lancar, kalo kenapa-napa, apa dia sudah pikirin gimana-gimananya? Mimpi manis sih gampang... Ngehamilin saya sih dia doyan...
Tapi apa benar-benar dia sudah pikirkan konsekuensi-nya, segala skenario-nya, yang baik atau yang buruk... Apalagi sekarang, setelah dengar berita seorang teman kami yang ternyata skenario-nya nggak seperti yang diharapkan... Saya semakin tertampar, it could happen to me too. What if I was Wenty? Saya, sejujurnya, insyaallah saya kuat, saya nggak menganggap itu sebuah masalah kalau nyawa saya musti terputus asal nyawa anak saya nyambung ke dunia... Menurut saya itu adalah sebuah kehormatan. Yang saya tanya, kalo Gerry gimana?
Kita harus sepakat dalam hal ini kan?

Gerry ngintip kalo saya diam-diam nangis. "Hey," dia mencium kening saya. "Jangan nangis melulu. Kamu mulai deh, sensitif amat sih..."
Si (mantan) Bang Norman ini masih nangis. Pelan-pelan sih, kedengeran kayak pilek aja, nggak enak sama penumpang lain.
"Noran, aku mana bisa memilih untuk kehilangan kamu. Ngebayanginnya aja aku nggak bisa,"
"Tapi kan kamu ngebet pengen punya anak,"
"Iya. Aku tau. Aku juga kaget denger berita Wenty ini. Mata aku baru kebuka, kalau melahirkan itu nggak segampang itu..."
"Makanya..."
"Aku dari tadi pusing mikirin. Aku nggak bisa jawab, akan pilih mana, kamu atau anak kita. Aku nggak bisa."
"Nanti kalau aku jadi melahirkan, kamu akan ditanya sama dokter. Kamu nggak bisa lari dari pertanyaan itu. Dan aku mau jawaban kita sama."
"Kalau aku akan membiarkan aku dan anak kita... kehilangan kamu?"
"Iya..."
"Aku..." Dia terbata dan menggantung jawabannya.
Kami diam-diaman. Pelan-pelan tangisan (kelewat) sensitif saya pun mereda. Duh bener-bener deh, sore ini emosi saya bener-bener labil.
Saya bilang, "Insyaallah aku kuat Ger. Aku siap sama semua kemungkinan kalau nanti sudah dihadapkan... Aku mau anak kita hidup, sama kamu, sama Mama. Kamu akan jadi bapak paling hebat buat dia. Insyaallah aku siap. Kalo kenapa-napa, aku ingin kamu juga siap..."
Gerry menutup mukanya dengan kedua tangannya. Saya tau dia puyeng dan letih.
"Maaf kalo aku maksa-maksa nanya kamu... Aku cuma kepikiran. Kita harus siap sama semua kemungkinan kan?"
"Kamu kan belom hamil..." gumamnya pelan dari balik kedua tangannya.
"Iya. Tapi kan kamu pingin kita hamil,"
"Okay." ucapnya capek. "Okay. Okay okay. Aku...
belum...
siap.

Maafin aku.
Selama ini aku kepengen sesuatu dari kamu yang aku nggak tau apa akibatnya ke kita.
Aku cuma mikir yang enak-enaknya aja, aku pikir emang cuma enak-enak aja...
Aku lihat semua orang punya anak dan baik-baik aja. Aku pikir kita pun pastinya begitu.
Sekarang aku sadar, oke.
Aku belum bisa memilih kalo dokter suruh aku milih nanti. Aku belum siap, Noran.
Semua memang aku serahkan ke Tuhan, tapi untuk kehilangan kamu, atau kehilangan anak kita nanti...
kayaknya aku belum ikhlas. Aku belum berani, belum seikhlas itu.

Kita belum siap."

"Okay then..." paling tidak Gerry mengakui, saya agak lega sedikit.
"Program buat anaknya kita tunda ya...?"
Saya tersenyum. "Iyalah, kalau belum siap."
Dia melihat saya dan juga tersenyum. "Aku capek banget yang..."
"Iya, sori tadi aku mewek dan maksa-maksa nanya kamu... Tapi..."
"Iya iya. Aku ngerti yang kamu rasain,"
Saya mengambil tangannya, menggenggamnya dan meletakannya di pangkuan saya. "Thank you,"
Kami melanjutkan sisa penerbangan dengan melepas penat dalam diam. Lalu Gerry tau-tau tersentak, "Kamu kan belom mens dari bulan lalu!"


~ Nah, itulah dia asal muasalnya kenapa Gerry panik nyariin test pack pagi-pagi dini hari begini :)
Okay, saya bobo dulu. Belom pernah rasanya secapek ini, jiwa dan raga. Jam 4 pagi, Gerry udah bergelung selimutan di samping saya, dari tadi ngelindur nyuruh saya tidur.
Doakan hasil test pack kita besok negatif ya, feeling saya sih, mens saya memang dasar suka nggak teratur saja... :)

4 comments:

Gogo Caroselle said...

amin didoain,
sampe noran dan gerry siap
br si dedek dateng!
horeeeee

rid said...

aamiin.. kalo emang blum siap,hehe^^

Noran Bakrie said...

@ gogo & rid:

amiiin... makasiii doanya manjur! negatif kok! hehehehe

malah skrg mama yang minta cucu *hayah chape dehh*

Nia Nugroho said...

funny...
gue juga nanya hal yang sama ke Acum, setelah denger kabar Wenty meninggal (btw, gue gak kenal orangnya...tp denger2 soal kisahnya dia dan terharu banget)

Jadi ibu itu anugrah dan amanah paling berat dalam hidup ya Norce

aku jg minta smoga Tuhan ngasi bayi di waktu yang tepat

:)
*hugs*

Page copy protected against web site content infringement by Copyscape