tengah malam aku tersadar. 01.01
dalam gelap, aku terduduk. kuraba sisi kasurmu. cuma sprei menyapa
aku malas mencari-cari saklar lampu meja
jadi aku diam saja.
menunggu kamu pulang.
dalam gelap.
siapa tau kamu ke mart di samping resepsionis penginapan
beli rokok atau bir botol
karena aku ingat sebelum kita terlelap, kamu bilang, "rokok habis."
pulau ini pengap sekali kalau malam. ataukah, kamar kita?
di luar, angin berderu kencang. ataukah ombak?
teras kamar kita dipagari kawat,
kata penjaga hotel, supaya dingo tidak sembarangan ngeloyor
kabarnya mereka kuat dan suka nerjang pintu semaunya.
aku pejamkan mataku dalam gelap. duduk. menunggu
telingaku meruncing
ah ya. itu suara ombak.
merdu.
aku cinta laut sedari dulu.
jadi setiap dengar bunyi ombak bertepuktepuk di malammalam,
aku justru tenang. hatiku seperti nempel ke pijakan kakiku -
rasanya seperti, di tempat inilah. persis disinilah, aku semestinya ada.
semua yang kenal aku sudah tau, noran itu anak dugong. hahaha
kalo udah ketemu lautan, langsung ngendon :))
di sela deburannya, ternyata ada alunan musik. aku tau,
lagunya adalah lagu favorit aku. dari beach house, judulnya silver soul.
dan ada suara bariton dipaksain cempreng (kan vokalis-nya agak high pitch ya, suaranya)
ikut-ikutan bernyanyi. samar-samar. terdengar janggal,
lalu suara itu serak. lalu batukbatuk karena nggak kuat nahan cempreng lama-lama.
suara itu jelek banget, senyumku tersungging lebar.
aku kira aku bermimpi, aku kira aku masih belum sadar.
tapi ternyata nyata.
suara itu indah mengelus liang telingaku.
aku terus menutup mata sambil men(curi)dengar.
lagunya ganti, kali ini norway.
lebih high pitch lagi.
tapi suara bariton itu tetap semangat maksain nada.
kayaknya dia sengaja nyanyi untuk memanggil dingo-dingo di sekitar
(kan anjing bisa denger ultrasonik ya)
aku menahan tawa yang sedari tadi mau muncrat
cekikikan diem-diem aja
aku nggak mau ganggu syahdu-nya dia bernyanyi sendirian disana
aku menengadah. dan tersenyum lebar sambil tetap terpejam.
jauh di dalam hati, aku merasa angin hangat menghembus pelan dalam relung dada.
aku... bahagia.
seperti inikah bahagia?
damai tanpa ada masalah?
seperti inikan hidup yang dimimpi-mimpikan setiap manusia?
apa sungguh saat ini aku sedang mengalaminya?
ya allah, terima kasih.
terima kasih.
biarkan aku sedikit lagi, sedikit lebih lama lagi, begini.
aku tau tidak ada yang abadi,
karena itu biarkan aku saat ini begini.
setelah tiga lagu, suara itu beneran batuk-batuk kronis.
kayaknya sambil ngerokok dia, nyanyinya.
aku beranjak, mengambil air mineral dari kulkas dan membuka pintu depan kamar.
di luar ternyata tidak terlalu berangin. namun ombak di kejauhan mendebur-debur ceria
dia menoleh. sinar bulan keperakan menyinari mukanya dalam gelap.
kusodorkan botol air. dia tertawa kecil, "hei," sapanya
"puas karaokean?"
dia mengecilkan volume speaker ipod, mengganti posisi duduknya dan menarikku dalam pangkuannya. "suaranya gede banget ya? kamu kebangun ya?"
aku tak bisa menahan simpulan senyum.
"hehehe... aku nggak bisa tidur yang. jadi ke sini deh, denger lagu deh... terus..."
"it's okay baby. you sing niiiiice..." nada suaraku sok-sok membujuk dan membesarkan hatinya.
"ngejek aja. iya deh tau deh yang bintaro idol..."
tawaku kini terlepas.
dia memelukku lebih erat. mengecup lenganku, bahuku. "kamu badannya kok anget?"
"entahlah. lagi gerah aja 'kali," kupeluk bahunya. "aku berat gak?"
"turun 5 kilo kayaknya,"
aku tertawa lagi. "bagus deh, beban idup kamu entengan 5 kilo,"
dia juga tertawa. senyumnya dorky, matanya indah. kalau ketawa, dia punya kerutkerut banyak banget di ujung bibirnya.
"bobo yuk yang," ajakku.
"aku nggak bisa bobo,"
"aku juga. tapi disini melulu ntar masuk angin. yuk, kita nyanyinya di dalam aja,"
dia ketawa lagi, menyelipkan tangannya di balik kutangku dan semakin kuat memelukku.
kami berdua malah nggak beranjak juga. keenakan kelonan.
"momo cantik deh kalo malem-malem,"
"maksuuuud?" rada sensi, kok cuma malem?
"ya itu ada bayangan-bayangan cahaya tempias di muka kamu. idung bulet kamu kesamar. pipi gembul kamu juga kesamar, gimanaa gitu shadingnya... hehehe..."
"huuuu... dari dulu kamu love hate relationship sama idung aku,"
dia nyengir trus gigitin lengan aku. suka gitu tuh dia, mentang-mentang aku lemak dimana-mana
lama kemudian, dia iseng lagi. mainin rambut aku yang berantakan dan kriwilkriwil kesana kemari.
"aku nggak akan pernah lupain saat ini, mo," ucapnya pelan. nyaris berbisik.
aku melingkarkan lenganku ke lehernya, menyimpannya dalam pelukanku dalamdalam.
~ fraser island, 20 february 2010
silver house & norway, kalo mo denger secempreng apa si popo suka maksain suaranya :P
20.2.10
Killed by
Noran Bakrie
at
4:42 AM
Subscribe to:
Post Comments (Atom)
No comments:
Post a Comment