14.7.10

Tentang Nate "Oteka" Henn

“The only thing necessary for the triumph of evil is for good men to do nothing.” - Nate Henn


Tau Nate Henn? Saya juga enggak.
Baru dengar namanya 3 jam lalu saat Gerry pulang. (Gerry dan saya masih pisah lho yaaa. Dia sementara ini nginap di rumah saya karena saya yang tarik dia, sakit tipesnya belum pulih-pulih karena nggak ada yang ngurus dia di rumahnya. Lagian juga, rumah ini rumah dia juga, plus ibu saya masih kangen sama dia, dan terus terang, saya agak senang dengan kehadirannya yang on-off di rumah saya, daripada tau-tau off dengan drastisnya seperti pengalaman "sebelum"nya hehehehe. Bisa-bisa shock lagi shock lagi). Kami ngobrol-ngobrol sambil menunggu air hangat buat dia mandi. Ngomongin harinya, hari saya, ngomongin si Supik kucing saya yang baru melahirkan, ngomongin film barunya David Cronenberg, ngomongin hebohnya Spanyol pasca World Cup dan ngomongin ledakan bom di sebuah daerah bernama Kampala, Uganda, di malam final World Cup. Di situ Gerry sebutkan nama Nate Henn, seorang relawan AS yang meninggal dalam ledakan itu, bersama beberapa muridnya, si bocah-bocah Uganda yang lebih populer dengan nama program mereka, "The Invisible Children".

Baca lebih lengkapnya di sini ya: http://blog.invisiblechildren.com/2010/07/in-loving-memory-of-nate-oteka-henn/

Dia punya nickname "Oteka", artinya "Si Kuat."
Umurnya 25. Nyampe Uganda itu udah tekadnya. Sebelum menginjak tanah Afrika, dia udah jadi simpatisan di AS, istilahnya "roadie", keliling-keliling mengkampanyekan issue The Invisible Children di Afrika, dimana anak-anak di bawah umur yang badannya ceking dan perutnya buncit itu sudah musti gape pegang senapan laras panjang ketimbang pegang buku sekolah. Sudah mesti lihai merenggut nyawa ketimbang memetik pelajaran dan norma sosial di sekolah.
Dari peran sertanya di kampanye itu, dia dan teman-temannya berhasil menuai beberapa puluh ribu US dollar untuk The Invisible Children. Tidak cukup dengan hanya memberikan uang, Nate Henn, didukung oleh organisasi di balik The Invisible Children, bekerjasama dengan CauseCast, terbang ke Afrika untuk meneruskan program The Invisible Children yang sedang berjalan di Uganda.
Dan ternyata pergi ke Uganda adalah cita-cita Nate sedari awal, menurut pengakuan teman-temannya, sejak kuliah di University of Delaware. Makanya Nate bela-belain ikut program "The Roadie Internship" itu, selama 5 bulan roadtrip keliling AS, sampai congor dan badan capek menyuarakan simpatinya dan menggalang sumbangan terhadap Afrika - tanpa dibayar sama sekali. Dan karena misinya non-profit, saya sih nggak ngebayangin kalo selama roadtrip itu hidupnya glamor nan hedon macam film-film rock n roll ya..
Anyway, sampai juga Nate di Afrika. Tempat yang dia mau. Kenalan sama bocah-bocah disitu, hidup sama mereka dan berusaha membuat tempat itu lebih baik sedikit demi sedikit.
Dan ternyata ajalnya disitu. Dalam sebuah malam dimana dunia sedang bersorak sorai. Dia mati bersama 70 lebih warga Uganda, dia mati saat dia menghidupkan mimpi-mimpinya.

Saya tidak bisa tidur memikirkan dia. Cerita dia. Dan betapa egoisnya saya selama ini. Betapa sempit pikiran saya. Berulang-ulang saya bilang kalau dunia itu luas, ternyata saya nggak tau apa-apa.
Nate meninggal di seperempat abad umurnya saat hendak membuat dunia sedikit lebih baik. Dan saya? Saya yang umurnya nyaris 30, sudah seminggu ini terus menangis sebelum akhirnya ketiduran, berharap saya mati aja dan nggak usah bangun lagi aja besoknya saking sedihnya saya membayangkan akan ditinggal Gerry bekerja di Brazil akhir Juli nanti. (Oh ya, kami memang sudah putus. Tapi kami masih saling peduli. Dan terus terang, semestinya skenario-nya adalah kami putus, kami di Jakarta, berusaha memperbaiki diri sama-sama. Bukannya kami putus, dia terbang ke Brazil, tinggal minimal 6 bulan di sana, dan entahlah apa yang terjadi setelah itu.)
Tapi dengar kisah Nate buat saya merasa banci. Ayo dong Noran, hidup bukan cuma soal romantisme dan cinta-cintaan. Kamu terlalu lama menjadikan Gerry sebagai poros dunia kamu, sehingga kamu buta sama apa yang terjadi di dunia sebenarnya.
Jadi sendiri juga saya akan bertahan. Justru saya akan mengusir ego saya pelan-pelan, mulai mikirin orang lain, mengerti kekurangan orang lain dan kalau bisa membantu orang lain sebisa mungkin. Saya yakin dengan lebih sering peduli terhadap orang lain, rasa kesendirian saya pelan-pelan akan ngungsi. Memang saya nggak punya apa-apa dan siapa-siapa, tapi saya tau Tuhan nggak biarin saya sendiri. :)


PS. 14 Juli 2010, Selamat ulang tahun ke-24 ya Yoga :) Kakak kangen kamuuuuuuuuuu... :')

2 comments:

ribka said...

after all, unexpected things are what make our life exciting :)

Noran Bakrie said...

touche :)

Page copy protected against web site content infringement by Copyscape