14.9.10

40 hari dan ribuan kilometer raga kita ditarik jarak
40 hari aku bangun dan mikir kamu sedang apa sekarang
40 hari aku terlelap setelah berdoa agar urusanmu lancar hari itu
tuhan ada-ada saja caranya
dibuatlah kita jauh-jauh, padahal siapa yang mau jauh kalau sayang
namun tanpa perih dan kangen, darimana kita tau kalau cinta itu nyata
laki-laki, kadang aku lupa hatiku ini punya siapa, saat kau selalu ada
dan... laki-laki, semakin lama aku semakin hilang kuasa menahan perasaan
bagaimana jadinya cerita hidup kita nanti, aku pasrah.
mungkin kita tidak bersama, sekarang,
atau nanti,
aku sungguh tidak peduli.
asal aku tau kamu hidup, sehat dan dijaga tuhan di sana
itu saja yang aku peduli.



untuk dini hari setiap jam dua pagi, saat kamu makan siang di meja kerjamu dan menatapku dari layar komputer...
“makan apa?”
“sandwich, isinya telor ikan, bacon sama smoked egg,”
“hey, liat aku.”
“aku lagi liatin kamu...”
“nooo, itu kamu liatin skype screen di laptop. liat ke aku, aku pengen liat mata kamu menatap aku,”
dan kamu mengangkat pandanganmu ke webcam kecil di atas monitor komputermu, “kayak gini?”
aku tersenyum lihat mata kamu tajam menatap ke depan, ke aku, bukannya menunduk lihat monitor seperti biasanya. lama aku menikmati. “hello,” bisikku
“hey,” kamu tersenyum. ujung matamu berkerut dan hatiku langsung terasa ringan. “kamu ngeliat aku ngeliat kamu?”
“hehe iya, aku seneng. keep doing that,”
“aneh ya, kamu disana mikirnya aku ngelihat kamu... padahal yang aku liat disini, cuma kaca kamera kecil yang kedip-kedip...
mana kamu...?
... kamunya nggak ada...”
ulu hatiku rasanya diiris tipis-tipis dengar kamu ngomong itu pelan-pelan... “aku-nya nggak ada...”
detik itu juga aku tau kita sama-sama punya sesak merambat di dada.
akhir-akhir ini aku memang suka susah bernafas.

1 comment:

Gogo Caroselle said...

momooo
aku jadi sedi
huhuhu....
ternyata makin jauh itu bikin kita makin ngeh sama perasaan kita ya, jadi lebih peka...

Page copy protected against web site content infringement by Copyscape