Ada hasrat untuk merasa melata di sekujur pori-poriku. Ada keinginan merembes lamat-lamat, keluar dan menguap jadi udara, sebelum sempat terkata... Dia adalah ruh dari nafas yang terhirup dalam-dalam, sering terlalu dalam hingga buat rongga dadaku perih, dia adalah ruh dari bayang-bayangmu yang selama ini menjelajahi rentang kerinduanku. Suatu waktu di dunia sebuah cinta, telah kita tanam, berkali-kali layu dan berkali-kali kita siram dan gemburkan percaya agar ia kembali subur, namun tidak ada bunga yang mekar selamanya. Kita semua tau.
Dari sebelum kita lahir pun kita sudah ditakdirkan untuk mati.
Salahku memang untuk pura-pura percaya bahwa sekarang adalah selamanya. Terima kasih sudah mengingatkan, dan kini relakan aku untuk merintis segala ketidakpastian hidupku dalam restumu. Terima kasih, sudah membiarkan aku, mengenal besar jiwamu.
Dari sebelum kita lahir pun kita sudah ditakdirkan untuk mati.
Salahku memang untuk pura-pura percaya bahwa sekarang adalah selamanya. Terima kasih sudah mengingatkan, dan kini relakan aku untuk merintis segala ketidakpastian hidupku dalam restumu. Terima kasih, sudah membiarkan aku, mengenal besar jiwamu.
No comments:
Post a Comment