Namanya David.
Teman baikku. Tahunan lalu, dia-lah telinga tempat aku cerita.
Cerita supaya aku jangan gila.
Dia sabarnya luar biasa.
Dia apa adanya.
Dia produk dari pahit manis dunia.
Dia bicara nyata.
Dia tidak minta apa-apa,
dia bilang suatu malam, dia cinta saya.
Ternyata.
Entahlah kenapa.
Dan di dalam dada, di sana, di dalam sana,
setiap detak bergema
berkata,
"Dia akan selalu ada."
Sebelum, saat ini, dan setelah segala
... abu romantisme ini terbang tertiup angin realita.
~ Prince of Wales Hostel, Hobart Dorm, Boat Quay, Singapore
15 March 2011, 01.30 am.
Malam pertama kembali sendiri, dan buat aku berpikir lagi.
Aku benci sendiri.
Teman baikku. Tahunan lalu, dia-lah telinga tempat aku cerita.
Cerita supaya aku jangan gila.
Dia sabarnya luar biasa.
Dia apa adanya.
Dia produk dari pahit manis dunia.
Dia bicara nyata.
Dia tidak minta apa-apa,
dia bilang suatu malam, dia cinta saya.
Ternyata.
Entahlah kenapa.
Dan di dalam dada, di sana, di dalam sana,
setiap detak bergema
berkata,
"Dia akan selalu ada."
Sebelum, saat ini, dan setelah segala
... abu romantisme ini terbang tertiup angin realita.
~ Prince of Wales Hostel, Hobart Dorm, Boat Quay, Singapore
15 March 2011, 01.30 am.
Malam pertama kembali sendiri, dan buat aku berpikir lagi.
Aku benci sendiri.
No comments:
Post a Comment