Sendu. Waktu umurnya 1 bulan, dia menggeliat mencoba keluar dari kardusnya, dan gak kunjung sukses setelah satu jam mencoba. Akhirnya dia cuma bisa mengintip keluar, menonjolkan sepasang kuping mungil berbulu dan mata bulatnya, merenung.
Sambil menatap ketiga abang-nya yang semuanya sukses bisa manjat keluar dari kardus dan lagi bermain-main di ruang makan rumah.
Sendu belang tiga, mukanya saking lucunya saya selalu lemas melihatnya. Dia saya namakan "Sendu" saat itu juga, saat saya cekikikan dalam hati melihat gundah tatapannya meratapi ketidakberhasilannya memanjat kardus tempat dia tidur dan menyusui selama ini.
Sendu mati hari ini, Kamis, 19 Mei. Saya menemukannya bersembunyi di bawah kursi kecil yang suka dipakai ibu saya menyuci baju dan menanam bunga. Tubuhnya basah, kaku, meregang. Mulutnya berliur, buntutnya yang saya cintai itu kini basah dan belepotan kotorannya. Untung matanya tertutup, saya takut melihat mata yang terbelalak di bangkai binatang.
Umurnya mungkin baru 3-4 bulan, saya ingat kemarin begitu khawatir saya meninggalkan kucing-kucing saya sendirian di rumah saat kami sekeluarga pergi ke Bali. Sendu dan abangnya masih kecil-kecil, apalagi kami punya si bungsu Uno yang baru 1 bulan. Saya bawel setengah mati ke pembantu freelance, anak tukang pecel yang rumahnya di belakang komplek saya -- berulang-ulang saya ajari dia cara memberi makan, minta dia menghafal jumlah semua kucing saya, dengan nama-nama mereka dan memastikan semuanya datang dan makan. Di Bali pun, Ibu saya menelpon dia setiap hari menanyakan keadaan kucing.
Senangnya saya begitu saya pulang dan mereka semua masih sehat, malah tambah pinter makannya. Latief suka main di gorong-gorong, bersama Rahman. Mereka semua jago memanjat. Si mungil Uno pun sempat kecemplung di gorong dan menangis minta tolong, saat itu pagi-pagi sekali dan saya belum bangun, untung ada Ibu saya yang siap nyemplung ke got menyelamatkan dia.
Saya selalu terkekeh mendengar cerita kenakalan mereka. Padahal ibu saya ceritanya nggak bercanda, sambil kewalahan dan ngomel sebenarnya, namun saya yakin kalo anak-anak kucing kali ini cukup bandel dan tangguh.
Tiga malam lalu, saya ngidam order KFC malam-malam, seperti yang almarhum adik saya suka lakukan. Dia suka order KFC atau McD jam 1-2 pagi. Jadi saya pun order KFC, kepinginnya order, padahal David bilang dia bisa beliin di perjalanan pulangnya sekitar jam 9 malam. Tapi saya pinginnya order jam 2 pagi. Dasar satpam komplek bego, dia nggak ada di pos gerbang, jadi kurir KFC pun tidak bisa masuk ke komplek rumah saya. Dia menelpon saya, dan akhirnya, setelah gusar menunggu, saya keluar rumah ke gerbang komplek untuk menjemput orderan KFC saya. Saat itu tanggal 15 Mei, bulan purnama bulat-bulat nya. Putih gading, seperti sebutir mutiara raksasa di kain beludru ungu tua yang aslinya adalah langit malam. Komplek saya sepi luar biasa, saya melangkah menatap bulan. Suara angin pun tidak ada. Cuma ada suara keprek-keprek lembut setiap sendal jepit di kaki saya melangkah. Lalu ada suara meongan pelan.
Rupanya Sendu ikut menyusul saya. Dia di samping saya menemani. Di samping, lho, dia menemani.. Bukannya di belakang yang notabene cuma mengikuti.
Saya terharu. Kucing mungil itu sama sekali tidak ragu dan takut meninggalkan rumah jauh di belakang punggung kami, untuk menemani saya.
Saya memang piih kasih sedikit, saya jauh lebih sayang ke Sendu dan Uno dibandingkan 12 kucingku yang lain. Nggak tau kenapa. Muka Sendu selalu membekas di kepala saya, begitu juga tatapan Uno. Kebetulan dua-duanya itu aku yang kasih nama. Uno karena dia anak satu-satunya, ukurannya super gendut dari lahir (Mungkin karena anak tunggal) dan waktu bayi itu dia patuh dan nurut sekali kalau dikit-dikit mama-nya mindah-mindahin dia ke pojokan absurd di rumah, dari kotak parsel, ember baju kotor, lemari tempat nyimpen panci, di dalam kardus sepatu sebelah bantal saya, belantara barang-barang di gudang, pojokan rawan kejepit di belakang pintu... sampe yang paling misterius itu adalah kolong kasur saya. Ternyata Sandy (Mamanya Uno), udah belasan hari bersarang di kolong kasur saya, entah dari mana dia menyelinap masuk dan keluar, dan hebatnya dia sama sekali nggak mengeong, haus dan keluar untuk minum, atau buang air di dalam kamar, padahal kan saya kurung semalaman - kalau tidur kan pintu kamar saya tutup. Puluhan kali saya teriak-teriak orgasme ketika David nginep di kamar, dan Sandy ataupun Uno tetap nggak menunjukkan reaksi apa-apa, hehehe.
Waktu itu saya baru pulang dari Singapura, baru beli celana super nyaman yang sukses raib ketika saya sampe rumah. Celana itu baru saya temukan berminggu-minggu kemudian, di kolong kasur, sudah robek-robek, dan sudah bertukar peran jadi selimut bobo Uno.
Uno bagai anak kandung saya. Setiap hari saya meneriakkan namanya, ngajakin dia masuk ke rumah dan melukin dia, walau akhirnya saya bersin-bersin, tetep dibela-belain. (Saya alergi kucing, sebenarnya. Saya juga bingung kenapa saya kuat memelihara kucing sampe ratusan ekor seumur hidup saya, padahal alergi kucing.)
Uno tumbuh semakin gendut, menggemaskan, dia paling bete kalo dikurung sendirian di rumah sama saya, dia lebih suka bermain di luar sama kakak-kakak mungilnya, termasuk Sendu. Lucu sekali melihat dia nurut dan ikutan di setiap kebandelan kakak-kakaknya, dan semakin besar kelihatan kalo mukanya jelek seperti anak monyet. Tapi saya malah makin jatuh hati.
Uno hilang dua hari lalu. Saya sudah cari dia ke sekeliling komplek. Saya menolak merespon kehilangannya dengan emosi apapun. Saat itu saya lagi PMS dan sedang terpuruk-terpuruknya, kebetulan banyak masalah dan teman yang mengecewakan saya. Saya menganggap kalau dia akan pulang sore ini, atau besok sore, atau besok sorenya lagi.
Tapi hari ini, ketika saya letih baru pulang dari bekerja, photo shooting seharian, lepas baju dan pakai kutang karena gerah - dan menemukan bangkai Sendu di halaman belakang, saya runtuh. Saya langsung tau kalau tidak cuma Sendu yang ninggalin saya, tapi juga Uno. Mereka berdua nggak ada. Kedua mahkluk mungil yang paling dekat dengan saya dan selalu menunjukkan perhatian mereka yang menggemaskan. Saya belum pernah punya anak kandung sendiri, tapi dulu saya pernah keguguran dan lemas begitu sadar kalau saya kehilangan sesuatu sebelum benar-benar memilikinya. Terlalu singkat. Seperti itulah yang saya rasakan.
David masih di kantor, saya tidak menelponnya. Setelah puas menangis dan meraung, saya bungkus Sendu dengan daster bekas mama saya, dan saya bawa dia ke halaman samping, letakkan dia pelan-pelan di gang setapak. Halaman samping kami gunakan untuk menanam bumbu masak, seperti cabe rawit bali, kunyit, serai, jahe. Ada ruang kosong sedikit di antara serai dan jahe, saya korek tanah dengan gunting, setelah lubang terbuka agak lebar, saya gali tanah itu dengan tangan. Kami punya cangkul sebenarnya, tapi saya lupa dimana dan terlalu malas untuk menelpon mama saya dan nanya. Mungkin saya perlu melakukan sesuatu dengan lama dan telaten, jadilah saya keasikan mengorek-ngorek tanah yang kadang basah, kadang kering, kadang batu dan kadang mengandung kotoran kucing -- akhirnya cukup juga lubang-nya untuk meletakkan bangkai kucing berumur 4 bulan. Saya taruh Sendu di dalam lubang, kepalanya menghadap matahari terbenam (Saya nggak tau kenapa, saya punya kebiasaan ngubur kucing kepalanya ngadep matahari terbenam), saya foto lubang itu sekali. Dan saya tutup kembali lubang itu.
Di situlah saya, halaman samping rumah. Pembantu tetangga saya di depan rumah celingukan, mungkin bertanya-tanya apa yang mba Noran lakukan, mana cuma pake kutang doang nggak pake bawahan dan beha. Gali lubang pake tangan sendiri, lalu difoto. Mana dikelilingi sama semua kucingnya. Ya anehnya saat itu semua kucing saya absen hadir, mengelilingi dan menonton saya mengubur Sendu. Ibaratnya pemakaman, saya punya banyak tamu melayat. :)
Saya menyadari kalo beberapa bulan belakangan ini saya sangat menikmati kesendirian saya. Saya tenang, apalagi kalau Mama sibuk keluar rumah atau keluar kota, dan kalau David terlalu capek membagi waktunya antara pekerjaan, sidejob satu, sidejob dua, ngurus kedua anaknya... dan akhirnya nggak punya waktu lagi untuk pacaran sama saya. Saya mengerti dia punya banyak tanggung jawab, saya sebenarnya malah kasihan. Punya anak dua itu kan mesti dihidupi sampai berpuluh-puluh tahun ke depan, saya bangga melihat betapa kuat dia bekerja dan bekerja tanpa pilih-pilih atau gengsi, apapun dia kerjakan, hanya agar bisa menabung untuk bayar uang sekolah anaknya, membelikan mereka seragam dan buku cerita, dan membawa kami, saya dan kedua anaknya, piknik dan berenang tiap hari Minggu. Saya pingin punya bapak yang begitu. Seingat saya, dulu bapak saya nggak begitu.
Jadilah akhir-akhir ini saya diam saja di rumah, paling seharian bekerja, ngurus orang yang mau beli foto saya, buat beberapa project website, baca buku, nanam cabe, main sama Sendu dan Uno, masak, meditasi... Saya cuma tau tanggalan dari handphone atau kalau David ingetin saya soal jadwal foto saya. Saya bahkan jarang menelpon teman untuk sekedar ngajak mereka nongkrong, teman yang saya telpon biasanya berhubungan dengan pekerjaan saja. Hibernasi dari sosialisasi. Kuper, bahasa simpelnya. Saya nggak tau gimana nanti ketika saya mesti dipaksakan bertemu dan bergaul lagi dengan orang-orang Jakarta, saya lupa gimana mesti bersikap.
Yang saya mau cuma kembali ke desa di Karangasem Bali, yang kemarin saya tinggali ketika saya kecelakaan dan cedera otot pas diving dan musti dipijit dan istirahat. Disitu saya nggak kenal siapa-siapa, cuma kenal David, dia terbang ke Bali setelah training di Surabaya, untuk menemani saya nginap sampai saya pulih. Saya tinggal di guesthouse (yang sebenarnya gubuk) rumah penduduk dekat klinik tempat saya pijit. Kamarnya satu, kamar mandinya di luar. Kalau pagi-pagi, saya duduk di kursi di sebelah dapur sambil minum teh pahit hangat dan nyemil pisang rebus. Ada sungai, airnya putih kehijauan, agak deras, persis di bawah dapur. Setelah sungai itu saya cuma bisa melihat barisan batang pohon dan rimbun daunnya di kejauhan. Suara kodoknya kencang sekali kalau sore-sore. Saya pernah sekali turun ke sana dan kecipak kecipuk merendam kaki di pinggirnya, tapi kemudian ditegur pemilik rumah karena sungai itu rawan longsor. Dan kalau malam, biasanya David minjam sepeda dan menyelinap ke warung di ujung desa, beli bir, vodka pletokan dan nutri sari. Lalu kami berdua baringan semalaman di sawung sawah sekitar 2 menit berjalan dari kamar kami... Cekikikan menghisap ganja dari Laurens, sepupu saya yang vilanya di Canggu pernah saya tinggali beberapa minggu lalu - minum segala macam "ramuan" si David, nyemil mi goreng, pasang playlist ipod pelan-pelan (Soalnya banyak rumah penduduk di sekeliling) dan berbisik-bisik ngerumpi, biar nggak diteriakin berisik, hehehe. Pernah David berbisik kalo saat itu, bersama saya, dia merasa muda dan bebas lagi. Nggak seperti apa yang selalu dia rasakan di Jakarta (David memang lebih banyak ngedumel dan lebih depresif kalau di Jakarta). Dia bilang setiap ketemu saya, dia merasa hidupnya lebih enteng. Dia bilang kalau saya bisa jadi kayak bocah yang seru bermain sama kedua anaknya... dan setelah itu saya bisa jadi wanita paling liar dan seksi. Hahaha, entah dia ngomong apa. Dia sering begitu. Saya cekikikan aja kalo dia udah mulai ngelantur. Saya biarkan dia mencium saya dan menyelipkan jemarinya di sela paha saya.
Rasanya saya cuma mau hidup seperti itu saja. Jakarta terlalu ramai. Dari dulu saya bermimpi untuk meninggalkan tempat ini, tapi saya nggak kuat ninggalin Ibu saya semata wayang yang nggak mau ninggalin Jakarta. Satu-satunya makhluk hidup yang bisa saya percaya adalah kucing-kucing saya di sini, satu-satunya yang saya tahu, kalau mereka tidak akan mengkhianati hati saya.
Sendu, Uno, you are always in my prayer, in my sight inside my head.
19.5.11
Killed by
Noran Bakrie
at
10:04 PM
Subscribe to:
Post Comments (Atom)
No comments:
Post a Comment