Pulang dari airport.
Jam 4 pagi. Tepar.
Gelepakan di kamar, baju-baju dari ransel berantakan di sekeliling.
Dia pulang tak lama setelah aku tertidur,
mencium ujung hidungku dan menepuk pelan pipiku.
*Congi kasar, huhu. Lagi capek malah dibangunin. Udah gitu, ngatain lagi:
: “Item.”
: (Aku pura-pura tidur biar nggak digangguin.) “Hmmmh.”
: (Memeluk aku erat-erat sampe aku nggak bisa nafas dan akhirnya kebangun. Huu, curang cara ngebanguninnya!) “Item, kangeeeen. Jangan pergi jauh-jauh lagi.”
: “Hei.”
: “Item, bangun.”
: “Sial, skarang aku dipanggil Item.”
: “Kamu gosong banget. Nggak liat apa, tuh ngaca. Ngambang-ngambang seharian di Phi phi ya?”
: “Hehe, iyah.”
: “Jadi toh kamu ke sana. Bandeeel,”
: “Habis...”
: “Kita berdua udah tau yang sebenernya. Aku sih nggak pengen, dan kamu bilang kamu nggak akan. Tapi kita berdua tau, kamu pasti ke sana.”
: “He-eh.”
: “Sama siapa ke sana?”
: “Sendiri.”
: “Ketemu si Thailand?”
: “He-eh.”
: “Trus?”
: “Ngobrol.”
: “Soal?”
: “Soal.. yah, intinya kamu tau. Aku pengen pastiin kalau dia tau udah nggak ada ‘aku’ dan ‘dia’.
Aku bilang ke dia, kalo aku punyanya kamu, mulai sekarang.”
: (Nyengir.) “Ayang pinter. Trus, kalian nggak pegangan tangan?”
: “Pegangan tangan.”
: “Oh ya? Ciuman?”
: “Iya.”
: (Anehnya, mukanya nggak marah. Malah senyum.) “Kamu tidur sama dia?”
: “Enggak.”
: (Dia masih ngeliatin aku sambil senyam senyum.) “Jangan cium orang lain lagi, selain aku. Mulai sekarang.”
: “Oke.”
Dia menciumku, lalu berbaring memelukku.
: “Aku kangen kamu, Item.”
: “Hmmmh.” (Ngantuk)
: “Jangan pergi jauh-jauh lagi.”
: “Tapi aku suka jalan-jalan jauh-jauh. Makanya kamu ikut,”
: “Aku nggak suka jalan-jalan jauh-jauh kan yang,”
: “Hiya, kamu nggak seruu…”
: (Ketawa) “Duit aku tuh nggak sebanyak kamu. Lagian, mana mau kamu aku ikutin jalan-jalan kemana-mana. Pasti kamu gerah. Kamu kan sukanya sendirian aja, enak sendirian. Dan mana kuat aku ngikutin kamu yang sebentar-sebentar jalan-jalan melulu, sebulan bisa tiap minggu keluar kota.”
: “Hmmmmmh.”
: “Pacar yang aneh.”
: “Maaf ya, aku aneh.”
: “Kamu susah dipegang.”
: “Ah buktinya kamu bisa.”
: “Tapi susah. Dikit-dikit maunya berubah, nggak mau ditahan, nggak bisa ditebak. Aneh. Kok ada orang yang segitu bebasnya kayak kamu? Mama kamu tuh hebat banget tauk, super sabar ngurusin anak nggak tau aturan kayak kamu,”
: (Ketawa) “Kamu dicurhatin mama pas aku di Thailand ya?”
: “Iyaaaa. Pamit kek sama orang tua kalau mau pergi terbang jauh-jauh lintas negara. Kan jadinya mama kamu ngomel-ngomel sama aku…”
: “Ah mama sih udah biasa ngurut dada, hehehe.”
: “Bandel.”
: “Maaf ya ayang.”
: “Bandel.”
: “Ayang, ngantuk.”
: “Item, jangan bandel-bandel dong.”
: “Ngantuk nih. Grok. Grok.” (Pura-pura ngorok)
: “Item, asem, ndut, bandel…”
: “Hmmmmmh.”
: “Suka ngigo, bisulan, keras kepala…”
: “Grok. Grok.”
: “Aku sayang kamu, Item.”
: “I love you. Grok.”
3.8.08
Killed by
Noran Bakrie
at
6:00 AM
Subscribe to:
Post Comments (Atom)
No comments:
Post a Comment