9.12.08

Dia memelukku dari belakang, kuat, setelah kami bersebadan. Akhir-akhir ini pelukannya semakin kuat, sampai sering aku susah bernafas. Aku ngantuk. Beler, mataku setengah tertutup. Dan dia berbisik di telingaku, lembut seperti ibu guru super sabar yang sedang mengajari balita tuna grahita: "Momo."

Aku, menggumam.
Dia, I love you.
Aku, menggumamkan I love you.

Aku, Aku ngantuk.
Dia, Hei. Dengerin. Kamu sayang aku?
Aku, Sayang...
Dia, Kalo sayang, jangan buat aku kuatir. Mulai saat ini, kamu beneran berhenti bandelnya ya sayang?
Aku, menggumam.
Dia, Aku ngomong ini bukan buat Norry, bukan buat aku. Buat kamu. Aku nggak mau kamu kenapa-napa. Please sekali ini dengerin aku.
Aku, Aku dengeeer
Dia, Kalo kamu kenapa-napa, aku kuatir. Makanya kamu jangan kenapa-napa, jangan ngeyel, jangan keras kepala. Sayangi badan kamu. Kamu tau susahnya sayang sama orang yang nggak sayang dirinya sendiri?

Dia, Susah banget, Momo. Kamu nyiksa aku dengan nyiksa diri kamu sendiri, ngerti sayang?
Aku, Iya...
Dia, Makan nggak boleh telat, banyak makan sayur. Makan buah tiap hari yah. Jangan begadang, karena kamu pasti masuk angin. Kalo udah masuk angin, dikit-dikit kamu sakit. Minum air putih yang banyak, minum aja nggak usah pikirin kalo air putih itu nggak enak. Hey.

Dia berbisik, Kamu dengar aku?
Aku, Dengar. Aku nurut kok, beneran. Kali ini aku nurut
Dia, Kalo kamu sedih, mellow, galau, emosi, marah, sebel, down. Apapun itu, se-enggak penting apapun itu, kamu share ke aku yah. Jangan disimpan sendiri. Aku mau denger semuanya, aku mau kita bagi dua semua masalah kita, yah?
Aku, Iya. Maaf ya sayang, aku bandel
Dia, I love you. (Dia mencium belakang telingaku pelan). Nanti kalau aku di Malaysia, kamu mau tetap ngelakuin apa yang aku minta?
Aku, Mau. Kamu nggak usah kuatir. Aku nggak akan buat kamu susah
Dia, Hei. Justru kamu, mesti buat aku susah. Inget, semua perasaan sedih kamu harus kamu bagi sama aku. Kamu nggak sendirian, inget itu ya.
Aku, Iya. Aku nggak sendirian
Dia, Kamu punya aku
Aku, Aku punya kamu
Dia, Aku mau Momoku baik-baik aja. Can you promise me, you will take care of my momo?
Aku, I will

Hening. Kami berbaring dan menikmati kantuk merasuk.

Dia, Momo
Aku, Ya?
Dia, Kamu nggak kedinginan? Kok aku kedinginan ya?
Aku, Iya, kan tadi ujan. Aku juga kedinginan
Dia, Kok, nggak pasang baju?
Aku, Males
Dia bangun dan memasangkan bajuku di badanku yang super lemas karena setengah tidur. Menaikkan ujung selimut hingga menyentuh dagu, dan menatapku lama.
Aku memeluknya bahunya, Aku bangga sama Popo.
Dia, Oh ya?
Aku, Iya. Popo hebat bisa jadi apa yang Popo mau di Malaysia. Aku bangga. Aku kangen soalnya baru bulan depannya lagi bisa ketemu Popo, tapi bangga.

Aku, I love you Po.
Dia diam. Tak bergeming dalam pelukanku. Aku tau saat itu dia bahagia, karena aku merasakan bahagia itu membelai kulitku, menyelinap masuk dan bertiup lembut di rongga dadaku.

Menit berlalu.

Dia, Udah jam empat. Aku mandi yah. Kan pesawat aku jam tujuh
Aku, he-eh
Dia, Met bobo sayang
Aku, Aku nungguin.
Dia, Nggak usah. Bobo aja. Dia mencium perutku dan berbisik, Met bobo Norry, jagain Momo kamu ya...
Aku, Kamu yakin baju kamu udah beres semua?
Dia, Udah beres, kan kemaren aku cuma ranselan aja ke sini. Dia menciumku lama, Met bobo. Dan berlalu ke kamar mandi.
Aku sungguh berniat menunggunya bersiap-siap pergi, tapi kelopak mata berat sekali. Hatiku damai sekali. Aku pun juga berlalu, bukan nyusul ke kamar mandi, tapi ke alam mimpi.

Paginya, jam 10, aku kebangun karena HP bergetar. SMS darinya.
Bilang, "Udah nyampe KLCC yang. Kamu masih tidur ya? Aku kangen kamu."


Ah, Popo! Aku selalu nyengir kesenangan tiap kamu datang, walau aku tau aku akan merintih sepi di saat kamu pergi lagi. Aku benci siklus ini. Besok-besok, kita tetap sama-sama yah.



- Saya sakit maag akut kemarinnya. Sampai nangis semalaman nggak kuat nahan sakit, sampai muntah-muntahin isi perut di kamar tidur. Popo pulang dari Malaysia, kami ke dokter, dan kata dokter, saya maag. Baby Norry nggak pa-pa, tapi saya harus bedrest. Maag ini penyakit kambuhan saya, karena pola makan nggak teratur, makan sembarangan dan stres. Makanya Popo wanti-wanti saya layaknya saya anak kecil yang terbelakang, hehehe. Saya memang hamil, tapi kata siapa saya dewasa? Hehe. Tapi siapa tau saya bisa belajar jadi dewasa dengan hamil, amin.

No comments:

Page copy protected against web site content infringement by Copyscape