22.1.09

pelakon

Tuan.

Aku tau dunia ruah dengan pelakon. Aku cuma bingung, kenapa aku kau lemparkan di tengah mereka.
Aku tau kau pasti punya mau. Dari aku-kah? Kau ingin aku bagaimana, ah seandainya segampang itu kau bisa beri aku jawaban. Lihat tuan,

lihat!
Mereka berbedak tebal, lengkap dengan blazer dan stoking. Senyum mereka cantik sekali oh tuan, buat aku merinding. Mereka berjas rapi, tanpa sedikitpun lisut, pantofel mereka berkilau. Sering kali mengumbar tawa di tengah percakapan, sampai kupingku gatal. Terbaca gamblang setiap gerak gerik mereka, di tiap canda dan komentar manis mereka. Ah semuanya juga tau, tapi ya marilah kita sama-sama menikmati. Jajanan-jajanan yang mereka jajakan, aromanya harum, terbungkus rapi dan apik. Yang paling enak dilihat, paling laku! Dan mereka pun berlomba-lomba menjual apa yang bisa dijual.
Tuan, sumpah. Aku nggak kuat. Aku nggak kuat. Nggak kuat. Nggak kuat.
Aku nggak tau apa yang kulakukan di tengah-tengah mereka.

Nggak kuat. Nggak kuat. Kenapa tuan, kenapa mereka tak hentinya merayap menggigiti dinding kusam dunia ini. Mengunyah getir logam sen penuh minyak yang mereka raup, dan terus raup. Dan terus raup... Mau sampai kapan? Saat sudah habis telanjang bumi ini pun mereka masih lapar. Aku letih menyaksikan mereka yang tak pernah kenyang. Oh tuan, tolong hembuskan aku kekuatan untuk bertahan.

Dinginkanlah kepalaku dari silau sukses yang hanya mereka ukur dari dolar dan rupiah. Tolong tuan, tolong banget bangeeeeet. Aku mohon, jangan biarkan mereka menyentuhku. Aku nggak mau memuji karena merasa kecil dan menghina karena merasa besar, aku hanya mau melihat. Aku nggak mau memberi karena simpati, aku mau memberi karena empati. Aku nggak mau hidup di jiwa yang takut dibenci oleh mereka yang ia butuhkan. Aku nggak mau menghabiskan nyawaku untuk memikirkan bagaimana orang akan mencintai dan memujaku. Nggak mau. Nggak mau. Nggak kuat. Tuan, jagalah hatiku dari mereka.

Aku tau, aku nggak boleh takut sama mereka ya tuan? Bolehkan tuan suntikan aku sedikiiiiiiiit saja, keberanian? Aku tau, aku harus berani. Aku cuma nggak mau menghindar dari kenyataan dan jadi insan yang malah nggak peduli. Jadi sedikit saja ya, tolong aku? Tuan sayang aku-kah? Ah seandainya tuan bisa mengajarkan aku untuk bisa bernafas di antara mereka tanpa sedikit pun dadaku sesak.

Tuan, aku kangen rimba. Kangen hutan, kangen udara segar, kangen keterbelakangan. Oh tuan, aku rindu kebodohan!

Tuan! Ini hari Jumat, jam dua. Pria-pria itu akan kembali dari sholat sebentar lagi. Wanita-wanitanya juga, cuma mungkin lebih lama sedikit karena mereka selalu makan siang di tempat yang jauh setiap akhir minggu. Aku sambung nanti ya, aku lupa tadi meletakkan topengku di mana. Musti buru-buru kupasang sebelum ketahuan sama mereka kalau aku ini binatang.

No comments:

Page copy protected against web site content infringement by Copyscape