10.3.09

monday 09/03/09

"Aku cinta kamu, tapi kadang kamu GILA!"
~ Geraldino M. Lubis


"Apa yang Papi minta itu wajar! Aku anak pertama dia. Kamu tau dia sekarang sekarat. Apa salah ya, seorang bapak menikahkan anak laki-lakinya di hari-hari terakhirnya, hah?

Toh kita emang udah saling cinta. Toh aku pengen punya anak kamu.

Kenapa kamu ketakutan sendiri sih? Semua orang di sini niatnya baik, semuanya! Kamu aja yang paranoid nggak jelas.

Dasar perempuan EGOIS. Kamu egois. Kamu pikir perasaan kamu paling penting, ketakutan nggak jelas kamu itu paling penting?? Ketakutan kamu itu yang enggak penting, tau!

Kamu liat Papi sekarang. Apa nggak kasian? Kamu punya hati nggak sih? Kamu ngertiin dong perasaan orang tua. Perasaan saya! Apa sih yang buat kamu merasa dirugikan dengan menikahi saya?

Apa? Kebebasan kamu? Kamu tau saya nggak pernah ngekang kebebasan kamu. Selama ini kamu bebas-bebas aja kan mau jalan-jalan kemana? Kamu ke Phi Phi lagi aja ketemu sama mantan kamu, saya lepas. Jadi apa?? Apa, kamu takut kamu selingkuh? Kamu takut saya yang selingkuh...? Haloooo, Ran! Kemaren aja kamu udah selingkuh kanan kiri, saya juga selingkuh kanan kiri. Sejak kapan kita berhenti jadi bajingan? Kan kamu sendiri yang bilang. Makanya kita coba untuk berubah. Itu niat baik! Emang kamu nggak punya niat baik sama saya ya?

Kamu punya niat apa sama saya sih? Sampe kamu ketakutan buat nikah sama saya?

Pengecut. Kamu pengecut. Aku nggak tau musti gimanain kamu sekarang. Susah untuk terus sayang sama pikiran-pikiran gila kamu. Kalo kamu begini caranya, aku nggak akan maafin kamu. Kamu nggak hormatin aku, nggak hormatin hubungan kita.

Aku mau mencintai orang yang menghormati hubungan kita. Yang mau menghormati orang tua kita. Yang mau nikahin aku."

---

Itu adalah kata-kata Gerry yang membekas dalam di benak saya, saat dia membentak saya di teras depan rumahnya di Medan, saya tau di balik jendela di ruang tamu, 2 adik tirinya mendengar. Dan ibu tirinya. Dan adik ibu tirinya. Dan suami adik ibu tirinya. Dan 1 anak mereka. Dan pembantu rumah tangga. Belum lagi kalo ada orang di jalan yang dengar. Satu kampung deh, dengar.

Alasannya karena Bapak Gerry meminta dengan sangat agar Gerry menikah dengan saya. Setelah serangan jantung kesekian kalinya, setelah operasi penyumbatan pembuluh darah kedua kalinya, paling tidak ia ingin menikahkan putra sulungnya. Gerry adalah anak pertama dari bapak ibunya, saat umurnya 9 tahun, kedua orang tuanya bercerai dan menikah dengan pasangan masing-masing. Namun tetap, dia anak pertama. Laki-laki pula. Buat suku Batak, walau Gerry tumbuh besar di negara lain, hukumnya dianggap sama: anak laki-laki pertama berhadapan dengan eskpetasi-ekspetasi tinggi.

Gerry ngajak saya nikah udah beberapa kali, namun saya nggak pernah jawab. Awalnya saya bilang itu bukan interest saya sekarang, namun suatu hari nanti saya memang berniat mau menikah dengan dia. Tapi bukan sekarang. Saya nggak siap. Saya nggak yakin. Saya harus yakin dulu. Kadang suka kelepasan di mulut saya setelah kami bersebadan, kata-kata romantis seperti "Kalo setahun lagi kita masih sama-sama, yuk nikah aja," atau "Iya iya, aku mau jadi istri kamu... Mauuuu..." dan kemudian dia nanya, "Sekarang?" dan biasanya saya mesem-mesem trus nyiumin dia. Ciuman adalah langkah terakhir yang selalu saya lakukan setiap nggak punya jawaban apa-apa, always works on him.

Anywaaaay. Kembali ke Medan.
Entahlah apa mood saya lagi kacau, cuman belum pernah saya sesakit hati itu dihina Gerry. Di depan semua orang! Mana pernah saya bentak-bentak Gerry di depan Ibu saya, selama 10 bulan kami tinggal bareng -- padahal bisa aja. Bisa aja saya cerita ke Ibu saya kesalahan Gerry yang buat dia musti menginap 3 hari di mobil di luar rumah karena saya nggak sudi biarin dia masuk rumah. Bisa aja saya cerita ke keluarga saya gimana Gerry pernah membekap badan saya sampe saya terkilir dan musti diurut bu Romlah. Bisa aja saya cerita gimana Gerry merobek selaput dalam rahim saya dan buat saya pendarahan berkali-kali saat dia terlalu kasar menyebadani saya. Bisa, tapi saya nggak lakukan. Karena saya nggak mau dia bisa diusir Ibu saya, dikutuk dan dianggap barang haram, kalau Ibu saya tau.

Dan lihat apa yang dia lakukan sekarang. Sekali-kalinya saya bertamu ke rumah dia di Medan dalam rangka nemenin dia. Dia ngatain saya gila di depan semua jiwa yang menghuni rumah itu.

Saya nggak kuat menahan marah dan sakit. Jadi saya rapihkan baju-baju saya ke ransel saya. Dan tulis surat di bawah ini di Microsoft Word, transfer ke laptop dia, taro di desktop dan saya beri judul "Gerry Sayang,". Gerry pergi ke rumah sakit jemput bapaknya, bersama keluarganya. Jadi rumah kosong. Saya tinggalkan rumah itu, pesan taksi sama satpam di ujung jalan.
Ini suratnya:


Gerry sayang,

kamu kasar. Kamu temperamental. Kamu pernah banting aku ke dinding. Kamu pernah membekap aku sampai aku sesak. Kamu pernah perkosa aku. Kamu pernah senggamai aku sampe aku pingsan. Bukan nggak mungkin, suatu hari nanti setelah kita menikah, kamu akan mukulin aku.

Kamu tau rasanya tumbuh besar menyaksikan ibumu digebukin bapakmu? Enggak. Kamu nggak tau apa-apa! Kamu tumbuh besar dimanjain omamu yang jago masak itu. How the fuck do you know what it feels to be 10-yr-old me??

Gerry sayang,

kita sama-sama bajingan. Tapi bedanya, kamu ganteng, badan kamu bagus, titit kamu gede, kamu pintar, wawasan kamu luas dan kepribadian kamu menarik. Banyak perempuan mau kamu, perempuan yang jauh lebih cantik dari aku. Dan bajingan kayak kita, seumur hidup akan selalu disetir nafsu. Mana kuat kamu liat perempuan itu ngegandeng tangan kamu, melukin kamu, nempelin toketnya di dada kamu, duduk di pangkuan kamu, ngelus-ngelus selangkangan kamu. Iris kuping aku kalo kamu nggak muncrat saat itu juga! Bukan nggak mungkin, kamu akan meniduri perempuan lain dan semakin jarang pulang ke rumah sejak kita menikah nanti. Apalagi kalau punya anak, sekarang aja badan aku gendut -- tambah parah aja nanti abis punya anak kamu.

Kamu tau rasanya tumbuh besar tanpa kehadiran bapakmu di rumah? Okelah sesekali bapakmu pulang, itupun cuma buat gejolin ibumu karena ibumu menyembah-nyembah minta disentuh. Once again, how the fuck do you know what it feels to be 10-yr-old me??

YOU HAVE NO IDEA. YOU HAVE NO FUCKING IDEA.
You grew up alone. You grew up without any references what marriage life will be.

Kawin itu bukan untuk menghibur dan melegakan orang-orang di sekitar kita yang gerah sama aktivitas kumpul kebo kita. Kawin itu bukan cuma nyetor surat nikah ke muka orang tua. Bukan untuk legalisasi semua kegiatan ngewe kita. Bukan supaya anak kita lahir nanti punya akte dan masuk sekolahnya gampang! Kawin itu... bukan jawaban. Bukan solusi. Bukan mandat. Bukan tugas. Dan dengan segala hormat ke Papi kamu, kawin itu bukan last request before you leave the earth.

Aku nggak mau melahirkan anak yang tumbuh seperti aku dulu. Aku nggak mau terjebak mengurus kamu yang bisa aja jadi penyakitan (Oh ya, kamu punya tendensi untuk jadi penyakitan) dan mengurus anak kita yang (akhirnya jadi) traumatis. Aku pernah gila, Gerry! Aku takut anak aku gila kayak aku, dan punya hidup aku. ITU YANG AKU TAKUTIN. Sama aja buat DOSA. Buat gila anak sendiri itu DOSA.

Kamu tau rasanya punya bapak bunuh diri gara-gara kamu terus marah sama dia? Kamu tau rasanya punya adek yang stres gara-gara bapaknya nggak pernah di rumah dan selalu gebukin ibunya?? Yoga itu schizophrenic. Paranoid! Kamu kan liat sendiri kemaren. Kamu kan digebukin sama dia kemaren! Kamu cuma ditonjok doang mukanya Ger...

Kamu tau rasanya dulu digebukin tiap malam, tulang kering kamu diinjak, kepala kamu diinjak, seluruh badan kamu diinjak-injak? Tau rasanya sarapan bogem mentah ke mata tiap pagi, kepala kamu digetok pake palu? Kamu tau rasanya saat golok udah siap standby di rahang kamu untuk gorok leher kamu?? KAMU NGGAK TAU APA-APA SOAL MASA LALU AKU. KAMU PIKIR ITU CUMA MIMPI BURUK, KAMU MAUNYA ITU CUMA MIMPI BURUK. Itu nyata. Itu bukan sebuah screenplay di film thriller favorit kamu. Itu hidup aku dulu. Aku hidup di mimpi buruk itu, aku berasal dari situ. Kamu tau Mama aku dulu pernah remuk tulang rusuknya, tapi aku nanya, KAMU TAU NGGAK, RASANYA PUNYA TULANG RUSUK REMUK...? Karena digebukin darah daging sendiri?

Kamu pernah nggak digebukin bertubi-tubi sampe bentuk kepala dan muka kamu berubah? Kamu tau rasanya nggak?

Dan oh. Mama aku, Dan rasa bersalahnya. Ini topik klasik yang nggak akan mati. Mama aku hidup dengan rasa bersalah, karena ngawinin bapak aku dan membiarkan kami anak-anaknya menyaksikan dia digebukin -- sampe akhirnya kami gila. Karena bersalah, dia merelakan aja dirinya dijadiin sasaran tinju adik aku -- dia rela, dia pasrah, dia siap mati di tangan anaknya SEAKAN-AKAN DENGAN BEGITU IA MENEBUS SEMUA RASA SALAHNYA. Itu menyedihkan Gerry. Dan kamu tau, rasanya jadi aku, menyaksikan adik aku membunuh ibu aku perlahan-lahan? Dan aku nggak punya kuasa untuk berbuat apa-apa, karena memang Mama yang mau begitu.

Ini luka lama, aku tau. Basi. Luka kering, tapi luka itu adalah bagian dari aku. Aku nggak minta belas kasihan. Persetan dengan simpati kamu. Aku cuma mau nanya, kalo kamu nggak tau rasanya jadi anak yang sinting karena menyaksikan orang tuanya masih kesetanan akan emosi -- jangan berani-berani nanyain pertanyaan tolol kamu itu: "Will you friggin marry me?"

HAH. FUCK YOU.

Aku mau punya anak, Gerry. Aku mau punya keturunan. Mama aku membesarkan aku dengan nyawa, keringat dan darah, aku bersumpah akan kasih dia cucu. Tapi aku mau cucu dia jauh dari bahaya. Aku mau kasih cucu yang bahagia ke Mama aku. Makanya aku bilang, aku cinta kamu, aku mau punya anak kamu. Tapi itu nggak ada hubungannya dengan ikatan pernikahan. Itu beda cerita, beda konteks.

Aku akan selalu mengabdikan hidup aku buat anak aku. Tapi kamu?

Sampe kamu bisa mengontrol emosi kamu. Dan nafsu kamu. Sampe aku bisa percaya, aku akan selalu aman di tangan kamu. Sampe saat itu terjadi, baru aku akan memikirkan untuk mengabdikan hidup aku untuk jadi istri kamu.

Dan saat aku bilang kata "mengabdikan" itu adalah sepenuhnya. Sekali saja dan sepenuhnya. Aku bukan penganut paham kawin-bosen-cerai atau kawin-selingkuh-cerai atau kawin-miskin-cerai. Aku punya prinsip yang luar biasa konyol terdengar di hari gini: di hidupku, aku cuma mau sekali saja jadi istri seorang suami. Sekali, atau enggak usah repot-repot sekalian.

Kalo kamu nggak terima sama prinsip aku, waktu dan tempat saya persilakan, untuk kita berpisah dan menyusuri jalan masing-masing.



Wassalam,
Noran.


Setelahnya saya pergi ke Polonia. Beli tiket Air Asia on-the-spot, penerbangan berikutnya 4 jam lagi. Saya SMS dia untuk baca surat dari saya sepulangnya dia ke rumah. Saya nggak punya pilihan lain selain menunggu pesawat sialan berangkat 4 jam lagi, lama amat. Saya udah gerah di kota ini. Saya tau air mata saya terus mengalir, padahal saya nggak merasa menangis. Saya duduk di kursi dan terus-terusan mengusap muka saya yang basah oleh air mata -- ya, mungkin orang pada kira saya perempuan gila saat itu.

Saya hancur. Hati saya udah benyek diinjak-injak. Perasaan saya udah tercerai berai berkeping-keping. Saking perihnya, saya udah nggak ngerasa apa-apa lagi. Udah nggak peduli. Mati sekarang pun nggak peduli. Ada pesawat jatoh nimpa saya ato bom meledak di samping saya, silahkaaaan! Bring it on. Otak saya sudah penuh dikabuti emosi. Mati konyol gara-gara keseleo dan jatoh dari lantai atas pun saya rela. Silahkan. Terserah. Emang gua peduli.

Tiga jam lebih setelah menunggu di Polonia. Gerry nelpon. Saya angkat karena saya nggak ingin dia bertanya-tanya saya dimana dan ujung-ujungnya jadi ngiterin Medan seharian nyariin saya (Oh dia pernah begitu, cuma waktu di Bintaro). Dan dia nanya, "Kamu dimana ya? Kok baju kamu ilang semua?"
...
...
...
"Airport."
"Ke mana?"
"Jakarta."
"Balik ke rumah." perintahnya datar.
...
...
...
"Kamu udah baca surat saya?"
"Udah. Kamu sekarang balik ke sini."
"Kalo udah baca, kamu mustinya tau. Saya nggak bisa sama kamu sekarang. Kamu bentak saya dan ngatain saya perempuan gila di depan orang rumah kamu. Muka saya mau ditaro kemana?"
...
"Saya akan kumpulin semua orang rumah dan bilang di depan mereka, kalo kamu nggak gila. Saya yang gila. Tapi kamu balik sekarang."
...
...
"Aku nggak tau, Ger.
...
Kamu keseringan nyakitin hati saya. Sepertinya lama-lama saya nggak kuat. Saya pikir saya kuat kamu sakitin, kayaknya enggak juga.
Saya salah, saya minta maaf. Maafin kalau saya nggak sesabar yang saya pikir. Saya cuma mau pulang ke rumah saya.
Saya nggak bisa liat kamu dulu."
...
...
...
Gerry terisak. "Please. Balik sini.
...
Jangan tinggalin aku sekarang. Kamu tau Papi sekarat. Please.
...
Please. I can't do this by myself. Please, Noran. Pulang, tapi ke aku." suaranya bergetar. Aku belum pernah dengar dia terisak sekeras ini. Aku tau di ujung sana dia juga mendengar aku menangis.
...
...
...
"Aku nggak kuat nahan sakit, Ger. Kamu selalu nyakitin saya, badan dan perasaan saya.
Aku bukan Superman. Aku lemah. Aku manusia dengan banyak luka, dan kamu seringnya nambah luka aku.
Kamu minta maaf, tapi besoknya kamu melukai aku lagi.
...
Aku nggak berhenti maafin kamu. Dan kamu jadinya nggak berhenti melukai aku.
Aku sayang kamu, tapi mungkin aku mesti berhenti maafin kamu.
...
...
...
Mungkin kamu mesti sama perempuan yang lukanya sesedikit kamu.
Mungkin aku musti cari pasangan yang lukanya sebanyak aku. Karena cuma orang yang pernah kayak aku yang tau sakitnya jadi aku. Kamu nggak pernah. Kamu pikir masa lalu aku itu nggak pernah terjadi. Gimana aku bisa nikah sama orang yang merasa masa lalu aku cuma mimpi?
...
Aku berasal dari situ. Luka-luka aku nggak pernah sembuh, mereka cuma kering, tapi menganga dimana-mana. Dan kamu korek-korek mereka sampe berdarah lagi. Aku nggak kuat. Aku capek nahan sakit. Kamu tau, kalo kita sayang sama seseorang, kemungkinan besar orang itu akan jadi orang yang paling menyakiti kita.
...
...
Aku sayang kamu segitu hebatnya. Aku sayang kamu tanpa batas, semua perasaan yang ada di aku itu buat kamu. Bodoh emang. Hari gini masih aja polos banget ngasih semuanya ke satu laki-laki. Tapi yang namanya Noran emang bodoh. Nggak pernah terlihat ujung perasaan sayang itu di mata aku. Dan bayangin kayak apa jadinya aku begitu kamu menyakiti perasaan sayang itu.
...
Biarin aku sendiri sekarang."
...
...
...
...
...
"Ampun Mo. Aku minta ampun.
Aku nggak tau kamu masih nyimpan luka-luka kamu. Kamu biasanya positive-thinking, kamu aku liat udah tenang menghadapi Yoga dan Mama. Aku pikir kamu udah get over it. Aku nggak tau kamu nyimpan sakit di situ. Maafin aku. Ampunin aku sayang.
...
Aku nggak akan minta apa-apa dari kamu. Nggak akan. Aku cuma mau kamu baik-baik aja.
...
Tapi please jangan tinggalin aku. Aku nggak akan bahas soal nikah lagi. Aku akan bilang sama Papi semuanya, aku akan buat Papi berhenti nyuruh kita nikah. Ya?
Ya sayang ya?
Tapi kamu jangan tinggalin aku kayak gini. Aku perlu kamu. Bapak aku sakit parah, Noran. Aku lagi kebingungan. Aku perlu kamu ada di sini. Aku perlu istri aku. Kamu istri aku, mo nikah kek mo enggak kek, kamu selalu jadi istri aku. Kamu pendamping aku sayang, selemah-lemahnya kamu, kamu kekuatan aku.
...
...
Aku bajingan, sayang. Aku tau. Aku bajingan. Ampun. Ampunin aku. Aku cinta mati sama kamu, aku akan gila tanpa kamu. Aku cinta kamu, Noran. Aku cinta kamu dengan semua luka-luka kamu. Please ampunin bajingan ini. Kali ini terakhir kali aku nyakitin kamu. Please jangan tinggalin aku.
...
...
Pulang ke sini ya? Aku jemput kamu apa gimana? Kasih tau. Aku jemput aja ya, kamu jangan kemana-mana. Ya Momo, ya?"


---
---
---
---
---


Saya naik taksi pulang ke rumahnya. Ya. Noran adalah perempuan lemah yang gampang luluh.

Sebenarnya dari awal saya juga udah tau, saya mana punya hati, untuk ninggalin dia saat bapaknya lagi sakit begini. Mana tega. Sesakit-sakitnya perasaan saya, mana mampu saya tinggalin dia di saat kayak gini. Saya ngaku, aksi terbang balik ke Jakarta ini saya lakukan karena emosi semata, saya gerah dan nggak tahan di sekitar dia. Jauh di dalam hati, saya mau terus di samping dia. Bisa merasa bersalah seumur hidup, kalau saya naik pesawat ke Jakarta saat itu, dan ternyata bapaknya memang kenapa-napa.

Dia menunggu saya di jalan depan rumahnya, ngejogrok di trotoar. Matanya bengkak. Saya turun dari taksi, menghampirinya. Dia tidak beranjak, tubuhnya lemah sekali. Aku belum pernah melihatnya selemah ini. Dia memeluk paha saya yang berdiri di depannya, sambil bilang "Ampun" berulang-ulang. Dia membenamkan mukanya di depan selangkangan celana saya dan menangis di sana. Saya meletakkan ransel saya di jalan dan mengelus kepalanya, "Ssssshh..."
"Jangan tinggalin aku lagi,"
"Ssssshhh..."

Ini pertama kali aku melihatnya beneran menangis. Bukan sekedar suaranya yang bergetar, bukan terisak, bukan tercekat. Tapi menangis bagai anak kecil yang barang kesayangannya diambil dengan paksa. Menangis dan membasahi bagian depan celana saya, kalau adik tirinya liat saya pake celana ini, pasti saya dikira ngompol. :)
Saya tunggui dia sampai air matanya habis.


(Besok paginya, kami berdua terbangun dengan muka sembap. Hehehehe.
Dia melukin saya semalaman dan cerita gimana takutnya dia hari itu pas baca surat saya, pas tau saya bisa ninggalin dia ke Jakarta. Bahkan pas nungguin saya naik taksi balik ke rumahnya pun, dia ketakutan. Takut saya nggak nongol-nongol, katanya. Belum lagi mikirin Papinya yang udah capek langganan operasi jantung & terapi stroke. Kali ini saya lupa jelas apa kata-katanya, karena saya udah ngantuk berat dan lebih fokus menikmati mengelus kepalanya di pelukan saya, hehehe. Jarang banget seorang Geraldino nangis dan terkulai lemas kayak gini, baru kali ini malahan.
Tapi saya ingat satu kalimat pagi tadi, saya ketawa keras banget pas liat mukanya jadi kocak gitu gara-gara matanya bengkak. Saya bilang, "Kamu jelek banget sih matanya bengkak gitu. Jangan nangis lagi ya," saya mengelus kedua kelopak matanya.
Dia misuh-misuh malu, lalu mengecup kening saya pelan, "Jangan tinggalin saya lagi ya,"
Kami berciuman tanpa suara.

Semoga aku terus kuat mencintai kamu ya, Gerry.)

No comments:

Page copy protected against web site content infringement by Copyscape