12.3.09

tuhan sayang,

buka kuping dunia lebar-lebar kali ini.
sudah kubilang, aku ini bodoh.
boooooooooooooooo... doh.
aku sudah tau, bukannya aku bangga.
aku hanya cerita apa adanya.

merah tua warna hati ini kukelir atas nama satu lakilaki
bukan pink, bukan salem.
merah tua. amat tua, amat sangat tua.
aku teringat ati ayam mentah tiap kulihat warna hatiku.
bukan gradasi. boro-boro setengahnya transparansi.

kata mama, jangan percaya orang asing.
mana kita tau siapa dia, dari mana datangnya, apa maunya
semanis-manisnya senyumnya, siapa bisa bilang seperti apa dalamnya

tuhan sayang, tolong bilang mamaku
kali ini aku nggak nurutin petuahnya
hati ini aku berikan ke sepasang tangan lakilaki asing
dia bilang selama ini dia bernyawa tanpa detak detak hati
dia bilang dia ingin tau apa nikmatnya benci dan cinta
bilang mamaku, aku percaya laki-laki itu
aku percaya dia menyimpannya dan membawanya kemana-mana
setiap dia senang atau sedih, dia punya hatiku untuk dia kecup
setiap dia marah atau gelisah, dia punya hatiku untuk dia genggam erat
saking eratnya kadang hatiku memar sedikit.
namun setelahnya ia kecup biru lebamnya, dan selipkan pelan-pelan di kantong jiwanya
dengan begitu, dia tau dia nggak sendirian

tuhan sayang,

si bodoh ini kini bernafas dengan rongga dada yang kosong
berjalan, makan, tidur, berak, kerja. melayang-layang
di senja jingga berkeringat bintang yang tak urung berlalu
duh kok rasanya semriwing damai bukan kepalang
aku tersenyum meraba benang bening melingkar di pinggang
lakilaki itu memegang ujung benang dari hijau muka daratan
serak suaranya bersenandung halus, bisiknya
"kubiarkan kau terbang, namun tidak kubiarkan kau menghilang.
jangan lupa aku menyimpan hatimu di sini dan menjaga merahnya tidak pudar
terima kasih perempuan, kau isi hidupku dengan tarian
satu hatimu pernah tampung tangis kita berdua
satu hatimu pernah tampung cerita kita di dunia,"

iyaaaaa tuhan. aku bodoh!
hatiku cuma satu dan kuberikan cuma-cuma.
tapi gimana dong tuhan, aku bahagia

tidak apalah. aku tau resikonya. hatiku sudah sering retak
terantuk-antuk di trotoar yang kotor. lebam benyek diinjak-injak anak kampung
dipikirnya mainan. hahaa. bocah bocah bedeng itu kira semua bisa dimainkan.
tidak apalah kalau tuhan izinkan lakilaki ini meremas hancur hatiku esok hari
aku rela. aku ikhlas! mau protes juga percuma, bukan? :p
aku curiga hatiku ini agak tambeng, sering dibunuh berkali-kali tapi selalu hidup lagi
aku tau pasti akan menangis dan sok kepengen bunuh diri begitu tau hatiku hancur
aku tau. aku tau. aku tau. aku nggak suka sedih, tapi aku nggak takut sedih.

asal petang ini, jangan hapus senyumku ini.

No comments:

Page copy protected against web site content infringement by Copyscape