Tadi malam, jam 11an.
Popo berbaring di sampingku dan nyengir. "Yak. Yak. Konfirm."
"Ha?"
"Kamu bobonya selalu meringkuk kayak napi, setiap kelar aku kelonin dari belakang."
"Ha?" masih lemes aku-nya.
"Kamuuuuu... sayang. Kamu tuh selalu bobo kayak gini nih, meringkuk ke samping. Dengan kaki kamu yang kelipat nempel di perut, kayak jabang bayi di janin itu lho. Selalu. Selalu. Setiap kelar aku kelonin kamu dari belakang, kamu selalu gitu. Nggak pernah enggak."
"Oooh yaaa,"
Ketawa kecil. Lalu meletakkan tangannya di pinggangku, niatnya mau memeluk, cuman karena aku-nya udah keriwel-keriwel badannya (kan badanku tebel yaaa), dia cuma bisa mengelus pinggang dan punggungku. "Sayangku lucu amat siy," mulai deh Popo ngomong sok imut. Padahal sejam sebelumnya, gagah amat dia buat saya teriak-teriak nyerah karena keenakan.
Aku nggak jawab. Udah ah, lemes mode: on aja.
"Hiiii, dia bobo. Kebluk. Eh, katanya mau nonton DVD,"
Masih lemes mode: on.
Popo menggulingi aku, kaki kanannya ditaro di pinggulku. Lalu menggoyangnya supaya aku terguncang. "Ayoo, nonton..."
"Hhhhhh... kamu aja. Aku capeeeeek,"
"Ih baru ml sekali dah capek."
"Sekali tapi satu jam, huaaaahh," aku menutup mata dan beneran membiarkan diriku terlelap.
Popo mencubit pipiku, daguku, hidungku, bibirku. Iseng banget! Dia sering nih begini. Nowel-nowel gengges. "Idung kamu ada jerawat baru,"
Aku menggeram sebel.
"Haaaa, dia marah. Si panda marah..." Tuh? Tuh? Nyebelin kan.
Tau-tau jarinya udah mencetin jerawat aku.
Aku terbangun kaget, "Apa siiiiiih kamu...? Rese rese rese. Udah biarin aja jerawatnya,"
Popo ketawa. "Bobo lagi dong sayang, jangan marah-marah,"
Aku tidur lagi.
Eeeeeeeh......., nggak nyampe semenit 'kali, tangannya udah nyubit-nyubit pipiku lagi. "Pandaku tembem bem bemmm..." nyanyi-nyanyi nggak jelas. "Aku sayang panda, pandaku tembem bem bem..." iiiihh! Kayak punya balita autis, nyanyi-nyanyi nggak jelas sambil nyubitin mukaku.
Aku tetep pura-pura tidur, berharap dia lama-lama bosen.
Eh ngelunjak. Dia mengecup pipiku. Ujung hidungku. Daguku. Kelopak mataku. Semuanya di mukaku.
Aku jadinya mesem-mesem dalam hati, hehehe. Bocah autis yang manis, kekeke, terus ciumin tante ya...
Dia mencium bibirku pelan. Lembuuuuuuuuut baanget. Dan pas aku berhenti karena kecapekan, dia gigitin bibir bawahku, nggak mau ngelepas. "Aku sayang kamu, panda tembemku yang cantik..." ucapnya halus, dia masih menggigit bibir bawahku. Aku tersenyum, menciumnya sekali lagi dan kemudian terlelap menghirup nafasnya. Aku nggak keberatan. Bahkan aku mecinta setiap detik di malam itu.
13.3.09
Killed by
Noran Bakrie
at
11:16 AM
Subscribe to:
Post Comments (Atom)
No comments:
Post a Comment