Pagi ini aku dibangunkan oleh ciumannya. Aku malam tadi tidur di kamar Yoga, nemenin Mama. Dia tidur di kamar kita di depan. Akhir-akhir ini, sejak dia pulang dari Medan, kami sering pisah kamar :) Tapi bukan berantem lho. Aku semata tidur menemani Mama yang masih berduka.
Aku bilang padanya, untuk saat ini aku sedang tidak ingin bersenggama. Aku mohon dia mengerti. Dia bertanya, "Kenapa?". Aku jawab, "Aku lagi down. Nggak mau mikir ke situ. Dan, aku merasa nggak nyaman kamu ml-in di rumah ini. Yoga belom 40 hari. I don't know. I feel like being watched. Do dead peole really still wandering in their house in their first 40-days of dying?". Dan dia cuma bilang, "Ah. Ok."
Lalu kita berdua terdiam canggung. Aku merasa konyol. Dia merasa sungkan.
Kemudian dia tanya lagi, "Kalo di balik selimut?"
Aku tergelak. Dasar Popo. Usaha teruuuuus.
Dia bertanya lagi, "Kalo di rumah aku?"
Tawaku semakin keras. Tawa yang benar-benar lepas selama beberapa hari ini.
Dia ikutan tertawa. "Eh iya, di rumahku mestinya 'aman' dong..."
Aku masih tertawa, kemudian menciumnya sekilas dan keluar kamar menemani Mamaku yang sedang termangu-mangu sendirian di kamar Yoga.
Popo banyak mengerti. Untuk seorang laki-laki yang selama ini sukses buat saya setia jadi budak libido-nya, dia mau bernegosiasi. Kami hanya bercinta sekali saja, di malam dia pulang dari Medan. Itu pun semata karena kangen luar biasa. Dalam dan hebat.
Kadang aku kasihan melihatnya bekerja lembur bermalam-malam dan tidur di ranjang sendirian, kalau sudah begitu, setelah Mama tertidur, aku pindah ke kamar depan menemaninya. Dia hanya akan memelukku begitu tau aku ada di sampingnya, sama sekali tidak memaksaku untuk bercinta, walau aku tau selangkangan celana batik longgarnya itu membengkak. Namun dia hanya akan mengecup leherku, menggulingiku, merapatkan selangkangannya di antara hangat pahaku, dan membenamkan wajahnya di pundakku sampai pagi.
Pagi ini, dia menciumku. Sebenarnya setiap pagi, dia selalu menciumku. Cuma pagi ini, kok aku berasa amat sangat bersyukur punya pacar yang selalu bisa bangunin aku dengan kecupan manis? :)
Mama di dapur, buat mi goreng. Aromanya kemana-mana. Hmm. Kubuka mata, dan aku lihat Popo lagi memegang tongkat pel, dia lagi ngepel ternyata. "Mandi, mandi." katanya.
Aku ngulet-ngulet 5 menit. Eh, kok perutku sakit? Aku meregangkan badanku lagi. "Popo, perutnya sakit lagi. Haaaa... bete."
"Belom sembuh?"
Aku bangun dan mendudukkan diriku pelan-pelan. "Perih,"
"Duh kok kumat lagi ya? Padahal kemaren kamu udah bisa jalan... Coba berdiri."
Aku tak kuasa menahan sakit. Aku berteriak saat berdiri. Bukan, bukan karena sakit, karena marah. Marah karena perutku sakit.
Popo kaget dan balas membentak. "Kenapa sih??"
"Aku mau mandi! Perut setaaan, gak bisa dimanjain!"
"Sakit banget?"
"Hhhhhhhhh...!!!"
"Mesti ya, marah-marah? Udah, baringan lagi. Minum obat dulu,"
"Mau mandiiii...!!"
"Duduk."
Aku ngeloyor keluar dengan muka manyun, tanda membangkang. Walaupun jalannya sambil terbungkuk-bungkuk menahan perih. Ambil handuk, lalu ke kamar mandi. Mandi pun sambil duduk di dudukan toilet karena tak mampu berdiri.
Aku dengar mamaku pamit ke Gerry, tiap pagi jam setengah 9, dia selalu ziarah ke kuburan Yoga. Lalu Mama sekilas teriak ke aku dari luar, "Noy, kalo sakit istirahat dulu ya naaak... Jangan ke kantor...!"
Ah. Aku sebal. Hari ini kerjaan di kantor sialan pun banyak. Aku sebal dengan kerjaan bertumpuk gila-gilaan dan nggak manusiawi itu, tapi aku lebih sebal kenapa aku musti sakit melulu jadi nggak kelar-kelar itu ngelarin kerjaan. Aku tidak masuk hari Jumat kemarin karena meriang. Masa' hari ini mau absen lagi??
Mana dua minggu lalu aku sudah banyak absen karena Yoga meninggal. Masa' mau absen lagi??
Mana bisa sakit kalo kerjaan menumpuk. Nggak tenang sakitnya. Aku pun menangis di kamar mandi. Karena sakit dan karena sebal.
Popo mengecek keadaanku di kamar mandi. Menghampiriku yang lagi asik menangis sambil belepetan sabun dan shampo. Dia membilas badanku dan memandikanku. Menyelimutiku dengan handuk lalu memelukku. "Ssssh. Jangan ngeyel. Ayo istirahat aja. Kerjaan bisa nunggu,"
"Nggak bisa!"
"Bisa."
"Aku nggak mau kalah sama sakit!"
"Jangan ngeyel. Jangan kayak anak kecil. Kamu udah gede."
Aku semakin sebal. Sok kuat aku berdiri dan sebisa mungkin sok cool menahan perih di perut. Aku pasang baju dan mengeringkan rambut. Menyiapkan ransel.
"Trus kamu mau naik apa, hah?"
"Naek angkot, trus ojek. Kecuali kamu anter,"
"Aku nggak sudi nganter anak keras kepala."
"Ya udah. Anak keras kepala naek angkot aja."
"Kamu itu mustinya ke dokter sekarang! Fuck your work! Kamu sakit."
"Diaaaaaaaaaaaammm...!!!"
"Hehhh!! Digaji berapa ratus juta sih kamu, sampe sakit begini pun musti mau disiksa untuk kerja?? Have a respect on yourself."
"Bukan masalah duit, tau'!!! Ini masalah gue yang nggak mau kalah sama sakit. Gue benci sakit perut melulu, dari dulu dikit-dikit kumat sakit perut! Gue mesti berhenti buat perut gue belaguuu...!!"
"Apa-apaan sihh...?? Kalo sakit ya sakit. Gila kamu ya?"
Menahan napas dan menghitung 1,2,3... hup! Berdiri. Pasang ransel. Ambil kunci rumah.
"Dasar keras kepala. Keras kepala. Keras kepalaaaa...!! Liat tuh, kamu tuh mukanya udah pucet!"
Aku keluar ke teras rumah, jalan 10 langkah dari pagar, lalu berasa mual luar biasa. Balik ke halaman rumah dan sukses muntah di got. Aku tidak ingat apa yang terjadi setelah itu. Tau-tau tersadar udah di tempat tidur. Bau minyak kayu putih menghambur. Aku baringan pake kutang tidurku. Popo duduk di sampingku. Rintihnya, "Kenapa sih sayangku keras kepala...?" Dia menatapku memelas.
Aku tersenyum lemah, "Maaf."
Dia meminumkan teh manis hangat. "Kamu muntah-muntah hebat di got tadi. Untung kamu belom jauh-jauh jalannya." Raut muka Popo sedih sekali. "Kita ke dokter nanti ya? Aku takut usus buntu kamu kumat lagi... Ini bukan sakit perut biasa,"
Aku diam.
"Hey, jawab."
"Terserah Popo," jawabku lemah.
"Jangan keras kepala dong, sayang. I love you, okay?"
"I love you," balasku. "Tapi... kerjaan banyak..."
"Diam di situ! Jangan gerak-gerak. No kantor for today. Ngerti??"
"Tapi..."
"Perlu aku iket kamu ke tempat tidur...??" Kedua tangannya menahan kedua tanganku.
Aku tersenyum kecil. "Kamu napsuin kalo marah,"
Dia tertawa. "Kamu juga. Kalo ngeyel, napsuin..."
Aku tergelak.
"Kamu nurut sama aku ya, hari ini istirahat sama aku ya... Aku jagain kamu sampe kamu sembuh. Oke?"
"Oke,"
"Pandaku pinter," dia mengecupku lagi. Kami berciuman dan sekilas aku melupakan perih di perutku.
Makasih ya sayang, kamu sabar banget menjinakkan buta emosiku. I love you more and more each day :)
ps. oh ya, sorenya kami ke dokter. dan ternyata radang usus memang kumat lagi. :(
15.6.09
Killed by
Noran Bakrie
at
6:42 PM
Subscribe to:
Post Comments (Atom)
No comments:
Post a Comment