21.8.09

perempuan,

berkalikalikalikali aku bilang pada lelakimu
jangan dekati duniaku.

ribuan kali mulut ini letih berkata,
mata ini penat dan cuma bisa menatap kecewa
sampai perih aku melotot
sampai tengik ludah ini mengecap
-- lelaki, pulanglah.


rumahku bukan rumahmu
hidupku tak bisa menyentuh hidupmu, kecuali...
20 maret 2008.
saat itu setan dan gelora hinggap di selangkanganku
dan ia, lelakimu, mengartikannya sebagai cinta.
itu sepenuhnya kesalahanku.
tak terhitung berapa kali aku telah mengutuk diriku
takkan berujung akal sehatku menimbang mana yang lebih berat, kiri atau kanan.
iblis atau malaikat.
dosa atau kasih.
takkan mampu kita manusia memutuskan.

perempuan, entahlah kamu tau apa tidak

pernah ada di hidupku, satu bulan.
satu bulan dimana ada 31 malam,
lelakimu selalu terlelap di dalam tubuhku.
dimana dia mencium dada dan sela pahaku
lalu menggagahiku dan bilang, "aku cinta kamu."
lalu dia mendekapku kencang dan membiarkan aku menjilati jemarinya
sampai dia terbangun lagi dan merenggangkan kakiku lagi
berkali-kali. 5 sampai 6 kali.
dia sungguh hebat. dia lelaki yang luar biasa halus dan tangguh di saat bersamaan.
dan setiap aku bilang, "kamu hebat,"
dia bilang, "kamu orang pertama yang bilang itu."
aku bilang, "bohong. nggak mungkin."
dan dia bilang, "pacar pertamaku bilang aku payah. istriku bilang aku kasar. kamu perempuan ketiga, dan kamu bilang aku hebat."
ah perempuan, lelakimu ini terlalu lugu untuk menggombali aku.
aku baca rautnya saat ia berkata, tak pernah sekalipun ia membuang muka
dan mengalihkan pandangan.
ia selalu menjawab dengan menatap mataku lekat-lekat dan
menyunggingkan sedikit senyum di bibirnya.
senyum itu pernah menjadi nafasku.

sapaan "selamat pagi"-nya pernah jadi semangat pagi hariku.
dan permintaan, "aku mau menikah sama kamu" itu pernah jadi jangkar karatanku yang akhirnya terlempar juga ke dalam samudra
mengombang-ambingkan keskeptisanku di tengah lautan luas.
tidak mampu bergerak kemana-mana dan terus bertanya-tanya, benarkah ini bisa terjadi?
"mungkinkah menikah itu indah? aku mau jadi miliknya. mungkinkan aku mau jadi miliknya?
aku mau jadi istrinya. mungkinkan aku mampu jadi istrinya?
aku mau dia jadi suami dan pemimpinku. mungkinkah dia mampu memimpin aku?"
lalu aku berpikir dan berpikir dan berpikir kalau aku belum pernah mencintai manusia seperti ini.
dan aku bilang, "aku mau kamu jangan kemana-mana."
lalu dia bertanya lagi, "kalau aku disini, kamu akan nikah sama aku?"
dan aku bilang, "aku mau kamu jangan kemana-mana."

dan lelakimu itu menundukkan kepalanya sedikit
menatap kosong ke sprei kasur kami yang berantakan dan basah.
aku tau dia juga berantakan.

tapi...

perempuan, saat kau panggil dia, bukankah dia pulang?
pulang ke pelukanmu. ke ranjangmu.
pulang ke tengah-tengah ruang keluargamu, dikelilingi anak-anak kalian.
aku tau ada saat dimana kami berdua sama-sama harus menerima kalau hidup tidak senikmat senggama.
satu tahun lebih, satu tahun setengah. aku yakin aku sudah terbiasa.
dan setiap hari kudoakan agar kamu dan lelakimu damai disana merangkai kembali jalan cerita kalian.
setiap hari kudoakan semua manusia yang pernah menyentuh hidupku
manusia yang mencintai aku, manusia yang menghina aku
manusia yang membenci aku, manusia yang mendoakan kehancuranku
semua yang membantu dan mengajarkanku
semua yang menyelamatkanku dari diriku dan mungkin nanti matiku.
semua yang pernah jadi hidupku dan alasanku untuk hidup.

perempuan, aku mencintai lelakimu.
sekuat tenaga aku melupakannya, sebesar apapun usahaku untuk merelakannya.
aku mencintainya. dia tidak pernah pergi dari dalam dadaku, dia tidur di situ.
namun takkan berani aku menginginkannya.
sumpah mati, tak pernah terlintas di kepalaku untuk melihatnya lagi.
dia hidup di rumahmu. dia cari nafkah untuk hidupmu. dia adalah milikmu.

jadi tolong perempuan,
jangan permasalahkan hal yang bukan masalah.
masa lalu tidak akan menghampiri saat ini.
kenangan bukanlah kenyataan.

aku minta maaf atas semuanya.
dia selalu jadi milikmu, dan aku takkan singgah di hidup kalian lagi.


Istri Loh tiba-tiba menelpon,
nggak ngajak berantem kok. Ngomongnya baik-baik aja,
malah dia agak curhat. Dan sedih. Menyesali kenapa saya dan Loh saat itu musti bertemu.
Awalnya dia menyalahkan saya, memaki dan menghina saya, namun kemudian hanya menyesali nasib.
Karena katanya, satu tahun mereka rujuk kembali, Loh selalu mengasarinya.
Saat bercinta maupun tidak.
Dia tak kuat lagi, dia mau cerai. Untuk kesekian kalinya, dia mau bercerai dari Loh.
Dia menelponku dan bertanya, "Bagaimana caramu buat Loh mencintai kamu?
Aku mau Loh mencintai aku seperti dia mencintai kamu."
Dan saat aku bilang, "Nggak mungkin-lah. Kita udah lama pisah. Loh udah lupa sama saya."
Dia bilang, "Kamu bersama Loh, bulan April kemarin. Kamu ke sini, dan kamu sama Loh.
Waktu bulan Agustus tahun lalu, kamu juga ketemu Loh.
Loh nggak bilang soal itu, tapi saya tau dari teman-temannya.
Loh nggak pernah melupakan kamu. Dia masih mikirin kamu.
Dia semakin jahat sama saya, sejak kami rujuk. Dia cuma tersenyum kalau ada anak-anaknya.
Dulu Loh tidak begitu, Loh itu orangnya halus..."
"Iya, seinget saya Loh orangnya halus dan baik. Sangat sopan, malah."
"Sama kamu, iya.
Sama saya, dia kasar sekali.
Mungkin sebaiknya kami memang bercerai,
saya capek memaksa Loh untuk tetap sayang sama saya.
Saya sudah rela. Saya relakan dia sama perempuan lain."

Tuhan. Tolong aku.

8 comments:

Fabiola Renetta said...

... and tomorrow you'll be enlightened ...

Noran Bakrie said...

i did. makasyi honeybee, for being there in my low times :)

*hugs huuuugs*

lie said...

kak..pengalamannya sama denganku....

baca tulisan kali ini seperti berbicara dengan diri sendiri....

setelah sekian lam mencoba menjadikannya rahasia terbesar dalam hidupku...

owly said...

Ibuku pernah bilang, kita ga akan pernah tau apa yang akan terjadi besok. prepare for the worst thing and the best thing :)

Noran Bakrie said...

ah :)
senasib dong kita...

sabar ya iie, itu yg selalu aku ucapin ke diri aku sendiri. hope we'll find a way :)

Gogo Caroselle said...

ini yah yang kamu ceritain ran..
aku jadi sedi.. :(
*hugs*

Noran Bakrie said...

owly,
yup agree with your mother :)

Noran Bakrie said...

gogo,

hehehe. iya.
udaaah, jgn dibuat sedih. saya ajah atuh mah yg sedih... hehehe :)

Page copy protected against web site content infringement by Copyscape