19.4.11

Halo Un:Cut, apa yang baru?

Dariku? Tidak ada.

Aku kecewa seperti biasa.


Bicara denganmu rasanya seperti bicara dengan masa lalu. Kadang aku ketakutan kalau mengingat apa saja yang sudah aku alami,
bagaimana aku bisa sampai di sini.
Kadang, di hari-hari seperti ini, aku tidak mau mengingat.

Aku cemburu dengan Dumbledore. Dia punya Pensieve. Sungguh cemburu.
I would do anything to own a Pensieve.
Mungkin untuk sekarang, aku baru bisa-nya punya beberapa mini external harddisk, hehehe. Yang warna merah isinya film dan foto aku dan Gerry. Yang warna silver itu isinya Loh, dan juga pekerjaanku di agency digital yang baru aku jalani. Yang warna hitam, yang paling cupu soalnya cuma 160 GB, itu isinya hidupku di tahun 2001-2007 (Tugas-tugas kuliah yang dulu ngetiknya numpang di warnet, ganja, foto giting, foto orgy, foto kami di Stadium, shabu, LSD, desain-desain kerjaanku yang kampungan bener karena baru jadi Junior Designer, cewek, koleksi jpeg peta-peta dunia yang selalu kupandang sambil berpikir bisa kabur kemana aku saat itu, almarhum adikku yang kufoto saat dia memukuli ibuku, surat marahku pada bapakku, foto aku waktu abis digebuk mantan pacar, foto aku mencintai mantan pacar, foto luka-lukaku - entah dibuat orang atau dibuat diri sendiri... Egghh...). Harddisk itu paling malas kubuka.


Un:Cut,

Gerry sudah lama pergi. Kamu tau?
David menemani aku selama ini, dia bilang dia mau mengisi kekosonganku. Entahlah. Terserah dia.
Mungkin yang kubutuhkan bukan kekasih, tapi teman.
Hati ini perlu istirahat, biarlah mati rasa sebentar. Kupikir aku sebaiknya menjalani apa yang ada, apa yang Tuhan kasih.

Sering pada malam, saat kepala letih mencumbu bantal dan pikiran ini ingin lelap sebentar, David memelukku dan mengecup dahiku. Dia bilang, kalau dia tau, aku masih mencintai Gerry. Dia bilang dia tau, hatiku bukan dia yang punya.
Dia bilang, dia sudah terbiasa. Dia bilang, sudah 2 tahun dia menyayangi aku, jadi malam ini pun, walau hatiku entahlah dimana, dia tau diriku dalam pelukannya. Dan dia bilang, itu sudah cukup buat dia.

Sabar ya?

Aku tenang bersama dia.
David tidak pernah menuntut apapun. Dia juga pernah terluka, dan dia tau apa rasanya punya luka yang tidak bisa sembuh.
Aku nggak sendirian, aku jadi tau kalau ada orang yang selalu punya luka basah menganga. David salah satunya. Mengetahui kalau kami adalah sama, membuatku damai.

Dan aku cuma perlu damai. Di kepala ini, di hati.



Un:Cut,

pagi ini aku terbangun dan kembali menyadari kalau tidak satupun ada yang bisa kupercaya. Tidak juga Gerry, atau David. Kadang ibuku pun sering membunuh hatiku. Mungkin cuma Tuhan, tapi Tuhan bisa apa.
Kalau aku kesakitan dan sendirian dan dilukai oleh semua yang aku cintai, Tuhan bisa apa.
Aku tetap sayang Tuhan kok, aku cinta, semua karena Dia. Tapi saat ini aku tidak punya siapa-siapa.

Tadi pagi sekali, aku bercinta dengan David, aku sedang menstruasi dan David memperlakukan setiap jengkal badanku seperti porselen retak. Lembut dan hati-hati sekali. Aku merasa aman dalam dekapan tangannya, tau kalau dia memperlakukanku seperti manusia, bukannya wanita. Mencintaiku seperti mencintai manusia, bukan sebagai wanita.
Siang tadi aku terbangun karena telponnya, dia bilang dia kangen. Dia bilang aku cantik sekali semalam, dia bilang dia kangen dan nggak bisa berhenti mikirin. Aku suruh dia cepat pulang.

Lalu aku teringat, apa yang kuingat, saat aku bangun. Kalau tidak ada satu jiwa pun yang bisa kupercaya.
Tidak juga Gerry, walau sungguh mati aku mencintai dia.
Tidak juga David, walau aku sangat bahagia bersama dia.
Tidak juga teman-temanku, yang masing-masing punya masalah dan tanggungan dan ego.

Dan saat ini, kembali aku ingin, aku ingin pergi.
Rasanya lebih baik tidak ketemu siapa-siapa, daripada ketemu banyak manusia yang aku tau aku tidak bisa percaya.



No comments:

Page copy protected against web site content infringement by Copyscape